“Subhanallah, hujan nya makin deres aja nih”. Ucap Salma memandang keluar dari balik kaca mobil. “Kamu mau di anter sampe mana fa?”. Aku yang masih menatap deras nya hujan tak bergeming. Salma memukul pundak ku. “Hei.. di Tanya tuh jawab, ngelamun aja dari tadi, tuh jerawat nya muncul tuh”. Aku menoleh dan mencubit tangan Salma. Dia meringis kesakitan. “Nggak ngelamun kali, aku lagi mikir kok, huh” ucap ku sewot. “Alah, mikir apa mikir? Mikirin dia lagi?” Salma makin ngelantur. Ups! Dia? Salma bilang Dia? Dia siapa memang? Aku menerawang sejenak. Ehm, iya. Padahal aku nyaris melupakan nya. Dia bukan siapa-siapa, cumn seorang ikhwan yang aku hanya tau nama dan wajah nya saja. Tak pernah menyapa, bahkan nyaris kami tidak saling mengenal. Bisa di sebut, secret admirer gitu. Hehehe.
“jadi kamu mau di turunin di mana fa? Di pinggir jalan aja ya? Mobil ku kan gak bisa masuk ampe depan rumah mu.”
“iya, gak papa salma sholihah” ucap ku manis sambil menyubit ringan pipi Salma.
“Aku juga mau mampir ke toko sebrang jalan, mau beli cemilan. Dingin-dingin gini pasti gampang laper, hehehe”. Lanjut ku.
Mobil terus melaju menerjang hujan ibukota. Hujan deras ini membuat jalanan sepi. Mungkin karna sudah lewat jam pulang kerja. Tepat adzan isya berkumandang aku turun dari mobil. Setelah mengucap salam perpisahan, aku turun dan membentangkan payung merah ku. Seperti niat ku tadi, aku berbelanja sedikit cemilan. Ada coklat, kacang, dan pasti nya yoghurt favorit ku.
Kemudian aku keluar toko. Berdiri di pinggir jalan hendak menyebrang. Tapi, saat aku menoleh kekanan hendak memastikan keadaan jalan raya aku di kejutkan dengan seorang laki-laki. Badan nya tidak terlalu tinggi, tapi dia lebih tinggi dari pada aku. Sedikit kurus, dia memakai jaket hitam. Sekujur tubuh nya basah terkena hujan. Lampu jalan di sekitar toko kebetulan mati dan belum sempat di perbaiki. Aku tidak bisa menebak wajah nya. Tapi entah kenapa perut ku seperti di bolak balik isinya. Deg-degan, bukan takut, tapi aku sendiri masih belum mengerti kenapa perasaan ku berubah jadi seperti ini. Aku terus menatap nya, bukan karna aku penasaran itu siapa. Tapi karna dia bersikap agak aneh, dia terus memegangi perut bagian kanan nya, badan nya agak sedikit merunduk. “kenapa sih nih orang, kelaperan apa gimana sih?” ucap ku dalam hati. Hah????!!! Aku terkejut, benar-benar terkejut saat tangan kanan nya agak melepas pegangan dari perut nya. Tangan nya berlumur darah. Badan ku semakin gemetaran. Harus bagaimana ini, pantas saja dari tadi ia memegangi perut nya. Tapi kenapa bisa berdarah seperti itu? Aku maju mundur. Antara ingin menolong nya dan kabur. Pikiran ku kacau. Jika aku membantu nya, tapi dia justru membuat fitnah bahwa aku yang mencelakai nya bagaimana? Jika dia meminta aku bertanggung jawab dan membayar biaya pengobatan nya bagaimana? Aku bingung setengah sadar. Kaki ini kaku. Sebagian tubuh ku basah karna derasnya hujan. Payung mungil ku hanya mampu melindungi bagian kepala dan bahu saja. “Ya allah, gimana ini, masa iya aku harus istikhoroh dulu… aduuuh aku harus gimana? Jalanan sepi lagi, gak ada angkot lewat, haduh gimana ini gimanaaa…” aku menjerit dalam hati. Tiba-tiba lelaki itu mendekati ku, ah sudahlah. Aku putuskan untuk menolong nya. Dengan tangan gemetaran memegang payung, aku menatap ia yang sudah berjalan ke arah ku.
“em….ma…ma..af, b..bisa bantu s..s..saya ke rumah sakkkit?” Ucap nya agak terbata-bata. Wajah nya pucat pasi. Belum sempat aku menjawab ia terjatuh. Cepat cepat aku memayungi nya.
“Rumah sakit mana? Naik taxi aja ya? Masih kuat kan?” Ucap ku seperti laju kereta. Tapi ia tak menjawab, kepala nya nyaris menyentuh tanah. Dia jatuh pingsan. Aku mencoba menahan nya. Tapi aku juga harus mencari taksi. Aku panik setengah mati. Untunglah, tiba-tiba ada taksi lewat di depan kami. Pasti allah yang mengirimnya. Alhamdulillah.
Melihat aku kesulitan membopong lelaki tadi, sopir taksi kemudian turun dan membantu ku membopong nya.
“temen nya kenapa mba?” Tanya nya heran.
“Ada kecelakaan kecil pak tadi, tolong anter ke Rumah sakit Merdeka pak ya?”. Jawab ku sekenanya.
 Aku terus berucap ke sopir agar melaju lebih kencang. Aku mencoba tenang. Tapi!!!! Aku terkejut untuk kedua kali nya. Wajah nya! Sekali lagi aku memandang nya untuk memastikan itu. Ya allah! Bener banget, dia kan dia. Iya dia. Dia itu loh. Dia!!! Haduh aku makin deg degan. Dia yang barusan aku inget di mobil Salma. Dia yang aku cuman tau nama sama wajah nya. Tapi, kenapa kami di pertemukan di saat-saat seperti ini. Yang biasanya kami bertemu hanya di acara-acara besar kampus. Lalu kenapa perut nya berlumuran darah? Dia yang aku kenal bukan preman, dia laki-laki santun dan bersahaja. Lalu kenapa? Astaghfirullah, lindungi dia ya allah. Rasa nya aku ingin menangis, sedih dan kasihan.
Petugas rumah sakit membantu ku membawa Deni (Begitulah yang aku tahu nama nya) masuk ke ruang UGD. Seorang suster meminta ku mengisi administrasi. Syukurlah uang gajian privat yang baru aku terima kemarin masih utuh di dalam amplop. Jika tidak, mungkin entah berapa lama Deni harus menahan sakit nya karna administrasi yang tertunda. Miris nya rumah sakit di Indonesia, masih banyak yang lebih peduli dengan keuangan ketimbang nyawa seseorang.
Masuk nya Deni ke UGD agak membuat ku tenang. Aku agak bisa bernafas lega. Ah, aku baru ingat aku belum menghubungi Bik Inah bahwa aku akan pulang terlambat malam ini.
“Assalamualaikum, dengan kediaman Bapak Ahmad dan Ibu Riyani, ada yang bisa saya bantu?”
Bik Inah menjawab telpon ku.
“Bik, ini Wafa. Wafa di rumah sakit bik.” Belum selesai aku bicara, Bik Inah tiba-tiba memotong perkataan ku.
“Neng Wafa kenapa? Kecelakaan? Rumah sakit mana neng? Bibik kesana sekarang”. Ucap Bik Inah panik.
“Aduuuh bibik, dengerin dulu makanya, Wafa kan belum selesai ngomong. Bukan wafa yang kecelakaan. Temen Wafa Bik”.
“Alhamdulillah, Bibik kira neng Wafa kenapa-napa. Terus gimana neng?”
“Ehm, Bibik tolong bilang ke Mang Udin ya, jemput Wafa di Rumah Sakit, eh bukan jemput. Maksud nya Mang Udin suruh ke Rumah Sakit, jadi kalo ada apa-apa nanti gampang. Bibik jaga rumah aja, Ummi sama Abi kalo gak salah besok pagi atau lusa pulang ke Indo. Wafa mungkin di Rumah Sakit sampe keluarga temen Wafa dating Bik” Jelas ku.
“oh ya sudah, neng hati-hati ya, nanti bibik bilang ke Mang Udin cepet-cepet ke Rumah sakit. Tapi Rumah Sakit mana neng?”
“Rumah Sakit Merdeka bi, oh iya Bibik catet nih yaa.. Wafa minta tolong bawain baju ganti ya Bik, Bibik tau kan? Sepaket ya, jilbab sama gamis nya sama celana panjang nya. Jaket wafa juga di bawa ya, dua ya Bik. Oh iya, Fawas baju-baju nya nggak di bawa ke Cairo semua kan Bik?”
“Enggak neng, masih ada kok. Memang kenapa?”
“Bawain juga kaos sama celana panjang Fawas ya, sama kain panjang atau selimut deh. Bibik udah masak kan? Bawain makan malem juga ya buat aku sama temen aku bik”.
“Siap neng, udah bibik catet.”
“Ya udah, makasih ya Bik Inah, Wafa mau telpon Salma juga nih.”
“Oh iya neng, hati-hati ya neng Wafa, Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Oke! Urusan rumah selesai, sekarang tinggal ngabarin Salma.
Nomor yang anda tuju~~~~~
“Oh iya, Hp Salma tadi kan lowbat. Mungkin belum di charg”.
Aku mondar-mandir di depan UGD. Tiba-tiba dokter keluar. Aku bergegas menghampiri nya.
“Kamu keluarga pasien?” Tanya dokter.
“Iya dok, gimana keadaan kakak saya?” Ups! Maaf udah ngaku-ngaku.
“Alhamdulillah, luka nya nggak parah. Luka nya juga sudah selesai di jahit.” Jelas Dokter.
“Alhamdulillah, syukurlah kalo gitu Dok.” Jawab ku.
“Tapi tetap harus di opname, dan masih belum boleh banyak bergerak sampai jahitan nya kering.” Lanjut Dokter.
“Iya dok, Insya Allah.”
“Ya sudah, sebentar lagi mungkin dia siuman, kamu sudah boleh masuk.”
“Oh iya Dok, resep obat nya ada?”
“Nanti ada perawat yang anter resep nya, di tunggu saja ya”
Aku membalas nya dengan senyum. Dokter tersebut berlalu meninggalkan ku.
Masuk??? Yakin??? Nanti aja ah, nunggu Mang Udin.
Akhirnya aku hanya mondar-mandir menanti Mang Udin.
30 Menit kemudian Mang Udin datang.
“Alhamdulillah, Mang Udin dating juga akhirnya. Temenin Wafa masuk ke dalem yuk Mang.” Aku buru-buru mengajak Mang Udin masuk ke ruang opname Deni. Aku yang meminta nya di pindahkan ke ruang VIP I, supaya dia bisa beristirahat lebih nyaman.
“Neng ganti baju dulu aja.”
“Oh iya, ya udah Wafa ganti dulu deh. Mamang tunggu di sini ya”
“Iya neng”
Aku bergegas ke toilet. Usai ganti pakaian, aku melirik sedikit ke jam dinding di ujung koridor Rumah Sakit, “Masya Allah, sudah jam 1 malam?” gumam ku...

                                                                                                                   ~to be continue

                              
                Siapa yang mengenalnya? Memandang saja seperti tak sampai, menyentuh nya seperti tak mampu, mendengarnya bicara? Bahkan satu suarapun belum pernah ia katakan. Saat orang-orang ramai lalu lalang di hadapannya, mereka semua bungkam! Menutup penciuamnnya, seolah-olah sedang berjalan di pinggir tumpukan sampah busuk.
Ia bukan siapa-siapa, orang-orang lebih sering menyebutnya Qorin. Entah mengapa. Padahal, ayah ibunya pun tak tahu dimana. Ia seperti hidup sendiri di muka bumi. Seperti sebuah batang pohon tanpa duri, tak pernah ia menyakiti. Justru sebaliknya,  kerap kali ia tersakiti. Qorin bukanlah siapa-siapa. Hanya makhluk tuhan seperti biasa. Qorin tak memiliki siapa-siapa, hanya berteman langit dan bumi semata. Qorin tak punya apa-apa, hanya hati yang tersiksa kepunyaannya.
                Lagi-lagi Qorin tak berdaya. Garis yang terlikis di pipinya, mungkin airmata yang kerap kali membanjiri wajah nya yang mengukir garis tipis di pipinya. Ah, hati ini seperti tersayat saat melihatnya. Namun kebanyakan manusia ibukota acuh kepadanya.
Qorin, si gadis malang yang tak tahu berapa usianya. Qorin, si gadis pesisir ibukota, tak mampu bicara, tak sanggup berdiri kokoh bahkan berjalan. Mobil mewah tahun lalu yang menabraknya, kini entah kemana. Ah, andai saja si pemilik dulu sudi berbaik hati menolong nya. Bahkan polisi saja tak mampu mencari kemana si kaya. Atau, seperti “kura-kura dalam perahu”. Entahlah. Qorin, setahun lalu hanyalah gadis bisu, kini bukan hanya bisu yang mewarnai harinya, tak memiliki kaki, miskin papa tak berdaya. Sudikah kau menoleh barang sejenak padanya? 


                                                                                                  ~Jakarta, 06/02/2014



Menulis bukan hal yang sulit. Ia menjadi sulit karna tak ada kemauan yang kuat di dalam diri. Menulis menjadi hal yang menyenangkan jika kita biarkan otak dan tangan ini mengalir beriringan. tuliskan apa yang kamu mau. Tanpa terikat segala peraturan. Just write it! write write and write...

Komunitas ‪#‎OneWeekOnePage‬ hadir untuk mengajak kamu-kamu semua nulis. Kewajiban nya cuman 2 : -punya Blog -Wajib posting di blog pribadi 1 pekan 1 tulisan.
Makanya nama komunitas ini adalah ONE WEEK ONE PAGE.

Di jamin seru deh!!! mau gabung? cara nya gampang, buat pengguna whatsapp, cukup PM or messege ke : 089601515015 dengan format (Nama_Usia_Instansi) ~lebih di utamakan pengguna Whatsapp~
ayoo buruan daftaaar !!!
Kapasitas nya cuman sampe 50 orang saja loh  
Terbuka untuk umum, dari sabang sampai merauke. buat yang di luar negri juga OKE :)

Info lebih lanjut : @fifah_afifah_


Saat aku terjatuh, genggaman tanganmu membuat ku bangkit dan berdiri kembali.
Saat aku tersungkur, belaian lembutmu membuat aku pulih.
Saat aku menangis, sentuhan tanganmu di bahuku membuatku lega.
Teman, kemarin aku terjatuh, luka lama yang masih membekas terurai kembali.
Bukan pulih yang kurasa, justru semakin sakit.
Teman, dengarkan aku.
Saat luka lama pun terurai kembali, lagi-lagi saat aku hendak mendaki dan nyaris menggapai puncak.
Seseorang menyeretku untuk turun.
Teman, dalam seretannya aku menangis, pilu.
Dalam seretan nya aku bertanya, sehina apa diriku????
Mencapai puncak kerja keras ku pun aku masih di anggap tak layak!
Aku marah, hatiku terluka teman.
Bahkan aku melalui malam hanya berteman air mata.
Teman, cukup dengarkan saja aku.
Rasanya aku tak sanggup berdiri, mendongakkan kepalapun aku sakit!