Pagi ini saya ingin berterima kasih kepada Pak Polisi. Rasanya bahagia sekali menyaksikan apa yang terjadi di jalur busway Mampang Prapatan. Saya yang biasa nya berangkat kerja menggunakan Trans Jakarta, dan perjalanan terasa biasa saja, pagi tadi terasa berbeda.

                Penuhnya penumpang membuat saya tidak menyadari bahwa di depan bus yang saya tumpangi sedang ada kejadian “lucu” dan “menyenangkan” untuk disaksikan. Setelah beberapa saat, melihat beberapa orang di sekitar saya sudah mulai mencuri-curi pandang kedepan, sayapun penasaran. Saya coba menjinjitkan kaki, oh masih tak kelihatan. Kemudian saya coba menunduk, mencari-cari celah. Tetap saja tak terlihat. Kemudian bus yang saya tumpangi bergerak perlahan. Mulai saya bisa menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi.

                Beberapa waktu lalu saya sering mendengar cerita tentang kejadian seperti ini dari beberapa teman dan berita di media online. Belum pernah sebelumnya saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri. Para pengendara motor yang melintasi jalur busway sedang sibuk memindahkan motor nya dari jalur busway ke jalur umum. Dan pada jalur tersebut, tinggi separator mencapai 1 meter. Para pengendara motor yang saya saksikan tadi mulai mengangkat motor mereka masing-masing. Wajah-wajah mereka nampak gelisah. Mungkin, takut jika harus membayar denda sebesar lima ratus ribu rupiah.

                Sebelumnya saya katakan, ini adalah hal yang lucu dan menyenangkan untuk disaksikan. Anda mungkin beranggapan saya jahat karena bahagia diatas kegelisahan orang banyak. Bukan. Bukan seperti itu maksud saya.

                Ada hal yang menarik yang saya ambil dari kejadian pagi tadi. Sederhana saja, awalnya para pengendara motor berusaha sendiri-sendiri untuk memindahkan motornya atau mengangkat motornya agar berpindah jalur. Namun, semakin ia usahakan, usahanya semakin sia-sia. Beratnya motor tentu tak akan sanggup di angkat sendiri. Selang beberapa saat akhirnya beberapa pengendara mulai “bergotong royong” memindahkan motor-motor mereka. Ah senangnya. Kemudian, ada beberapa pengendara yang motornya sudah berpindah, bahkan mereka sudah siap melaju. Namun tiba-tiba tak jauh dari mereka masih ada beberapa motor yang tersangkut di separator, kemudian pengendara motor yang siap melaju itupun turun dan turut membantu pengendara lain yang motornya masih tersangkut. Inilah mengapa saya berterimakasih kepada Pak Polisi yang tadi turut menyaksikan. "Gara-gara" Pak Polisi mereka menuai pahala di pagi hari. "Gara-gara" Pak Polisi mereka saling tolong menolong di pagi tadi.

Semua akan indah jika kita saling bahu membahu, saling tolong menolong. Semua akan mudah jika kita saling meringankan beban satu sama lain.

                Akan tetapi, bukankah lebih indah lagi jika kita saling mengingatkan untuk mematuhi tata tertib lalu lintas? ^___^  



                Senin 17 Februari 2014, KAMMI Komisariat LIPIA menggelar aksi “Galang Dana” untuk membantu korban Erupsi Gunung Kelud. Unik nya, karena jadwal kuliah antara ikhwan dan akhwat berbeda, aksi ini pun di laksanakan dengan penjadwalan. Ikhwan beraksi di pagi hari sampai menjelang dzhuhur, sedangkan akhwat turun ke jalan dari ba’da dzhuhur sampai menjelang maghrib. Ada beberapa titik yang mereka jelajahi. Lampu merah Ragunan, perempatan Pejaten Village dan lampu merah sekitar halte Jatipadang.
                Wajah-wajah sumringah para penggalang dana tersebut di sambut ramah oleh para donatur yang saat itu melintasi lampu merah. Dalam aksi tersebut, ada seorang donatur yang dengan sukarela memberikan celengannya yang penuh dengan uang recehan. Subhanalllah, indahnya berbagi ^^.
                Alhamdulillah, aksi tersebut menghasilkan donasi sebanyak Rp.2.685.750,-. Dan insya allah aksi akan dilanjutkan di kampus mereka, LIPIA Jakarta. 

Oleh : Afifah Nusaibah (Dept. Media Komunikasi dan Informasi)




                
 Aku bekerja lebih keras dari teman-teman ku lainnya. Aku bekerja lebih sering dari teman-teman ku lainnya. Aku bersuara lebih nyaring dari teman-temanku lainnya. Aku berceloteh lebih lama dari teman-temanku lainnya.
                Dia mengotak-atik tubuh ku. Di aturnya jam 02:30, kemudian jam 03:00, kemudian jam 03:30, kemudian jam 04:00, kemudian jam 04:30. Dan begitulah setiap hari. Oh ya, setiap kali bersuara, bisa 5-10 menit lamanya. Ah betapa lelahnya diri ku. Tapi, si pemilikku??? Saat aku dengan lantangnya bersuara, ia bahkan bergerakpun tidak. Katanya, ia mengaturku seperti ini agar ia mudah terbangun. Katanya ia mengaturku seperti ini agar tidurnya tak nyenyak kemudian dapat bangun lebih pagi. Katanya~
Nyatanya???                                                
Justru aku terus berdering sepanjang sepertiga malam~
Ah, andaikan aku dapat berkata “aku lelah terus berdering lantang, tapi kau sama sekali tak memperdulikanku!”

Kau hanya akan membuka mata mu jika seseorang telah berkata “neng, udah adzan shubuh loh dari tadi”.
Kemudian kau terbangun dan berkata “Ah, masa sih??? Kok alarm aku gak bunyi ya?”
Lalu seseorang yang membangunkan mu tadi hanya tersenyum getir. Tak tahukah kau jika ia setiap malam selalu sholat dalam kebisingan ku??? Andai saja aku dapat menghentikan tugas ku ini dengan sendiri nya. Atau,,, bolehkah aku berpindah menjadi miliknya? Agar aku tak lelah bekerja sepanjang malam.

Begitu lelahnya aku, dan kini aku tak sanggup lagi mengerjakan tugasku. Tekadku sudah bulat. Besok pagi, mungkin kau akan terbangun karna suara yang lebih keras dari biasanya. Kemudian setelah ini, lebih baik kau menggantungkan tidur dan bangun mu pada penciptamu saja. Karna sesungguhnya Ia lah yang berhak mematikan dan menghidupkan mu. Jangan pernah lagi bergantung pada aku dan teman-teman ku. Sungguh, kami tak berdaya membangunkan mu. Mulailah menggantungkan kehidupan mu di esok hari pada penciptamu. Selamat tinggal duhai pemilikku.

*PRAAAAAAAANG*

Sita terbangun dari tidurnya. Ia terkejut melihat di samping ranjang jam weker kesayangan nya jatuh dan pecah. Buru-buru ia memungutnya. Kemudian Zahra (teman satu kost sita di kamar sebelah) masuk dan ikut terkejut.

“Apa yang jatuh Sit?” tanya Zahra.

“Jam  weker aku Ra” jawab Sita dengan nada sedih.

“Wah, mungkin dia kelamaan berdering, sampe jatuh dari meja.” Saut Zahra.

“Aku kan gak bisa bangun kalo gak pake jam weker”. Papar Sita.

“Bisa kok, asal sebelum tidur kamu minta di bangunin sama Allah.” Jawab Zahra sambil berlalu kembali kekamarnya. 

Senyum kecil Zahra tergambar di wajahnya. “Alhamdulillah, setelah ini malam akan kembali tenang”.
    
          Pesan : Buat kamu yang masih ngandelin alarm hape atau jam weker, mulai sekarang beranikan diri untuk berhenti menggunakannya. Karna yang punya kehendak untuk bangun dari tidur itu Allah, so minta bangunin sama Allah. ^^ 




                Orang lain dengan mudah nya berkata : “kamu tuh lebih baik seperti ini, seperti itu, begini, begitu” tanpa berfikir panjang tentang perasaan orang lain yang sedang ia bicarakan. Mungkin ada benarnya perkataan nya. Akan tetapi jika di katakan secara lantang di khalayak ramai, bukankah itu suatu hal yang menjatuhkan? Ini bukan arena bermain jika anda mengatakan “hanya sekedar candaan”. Karena toh jalan yang dipilih orang yang anda kritisi tadi bukan jalanan yang hanya untuk ia main-main. Itulah jalan hidup nya, jalan yang sudah ia pilih. Mungkin ia bahkan berat untuk memutuskan memilih jalan itu. Tapi apakah anda pernah bertanya alasan mengapa ia harus memilih jalan yang sulit? Pernahkah??? Jika sekali saja anda tak pernah bertanya, maka anda sama sekali tidak memiliki hak untuk mengkritisinya. Tahukah anda jika ia sakit? Jika hatinya menahan betapa perihnya apa yang ia alami saat ini. Bahkan ia pun tersenyum saat keadaan mengharuskannya untuk menangis penuh! Saat ia menangispun tak ada seseorang disisinya. Menepuk bahunya mungkin, atau berkata “sabarlah wahai sahabatku”. Tapi itu hanya khayalannya belaka. Sampai detik ini pun tak ada. Justru yang ada adalah cemooh dari orang-orang yang ternyata ia kenal. Betapa malang nya ia. Ah andai saja aku disisinya. Setidaknya jika aku tak mampu menepuk bahunya, aku mampu menemaninya menangis.

Akhwat jaman sekarang, temennya baca buku tentang pernikahan di bilang “Cie, yang udah ngebet nikah”~


                Akhwat jaman sekarang, temennya baca buku tentang rumah tangga di bilang “ehem, yang udah mau di khitbah”~


                Akhwat jaman sekarang, temennya dateng ke seminar parenting di bilang “Sekalian cari jodoh ya? Siapa tau ada yang nyantol?        Haha”~ (tragis!bahkan sambil tertawa)

                Akhwat oh akhwat~




Aku bergegas ke toilet. Usai ganti pakaian, aku melirik sedikit ke jam dinding di ujung koridor Rumah Sakit, “Masya Allah, sudah jam 1 malam?” gumam ku.
 “Neng, temen nya udah sadar tuh.” Ucap Mang Udin saat melihatku tiba di depan ruang inap.
“Oh gitu, syukurlah. Mamang nanya nomor telpon keluarganya nggak?”
“Nggak neng, dia nanyain eneng dimana, mamang cumin jawab lagi ganti baju.” Deg! Perut ku sepert di aduk-aduk lagi. Hffttt.
Kemudian aku dan Mang Uding masuk ke ruang dimana Deni di rawat.
Sekilas aku memandang wajahnya. Masih persis seperti dalam ingatanku.
“Syukron ya ukhty atas bantuan nya.” Ucap nya lirih.
Aku hanya mengangguk.
“Oh iya, ada keluarga yang bisa di hubungin nggak?” Tanya ku.
“Iya, ada. Tolong telpon istri saya ya” JEGGEEERRRRRRR!!!! Dunia seperti runtuh! Badai menghantam dahsyat! Bukan gemetar yang aku rasakan, tapi merinding. Ngilu dari ujung kepala sampai kaki. UGD! Bawa aku ke UGD! Rasanya aku hampir serangan jantung!
“Maaf mba, bisa tolong hubungi istri saya?” Ucap nya lagi. Astaghfirullah, kok aku jadi bengong gini.
“Iya, bisa bisa. Nomornya berapa?”
Setelah ia memberitahuku nomor telpon istri nya aku bergegas menelponnya. Terdengar suara lembut di ujung telpon.
“Jadi Abang sekarang di rumah sakit mana mba?” Tanya nya. Oh, jadi di panggil abang. Ehem.
“Rumah Sakit Merdeka mba.” Jawab ku.
“Saya segera kesana mba.”
Setelah menutup telpon aku pura-pura konsen dengan hp ku. Padahal, aku sedang memperbaiki perasaan ku yang nyaris meledak tak karuan.
“Kok bisa sih Mas kejadian gini?” terdengar mang Udin sedang mengintrogasi Deni.
“hehhe, sudah kehendak Allah Pak.” Jawab nya santai.
“iya saya mau tau sebab nya Mas.” Paksa Mang Udin.
“Oh itu, tadi sepulang dari masjid usai sholat maghrib, gang menuju kontrakan saya memang gelap, dan sepi. Tiba-tiba ada orang nggak saya kenal nusuk saya dari depan. Saya nggak sadar Pak, orang nya cepet banget gerak nya. Pas saya kesakitan, dompet sama handphone saya di ambil. Mungkin dia lagi butuh uang Pak. Hehehe” Oh jadi gitu ceritanya, gumam ku dalam hati dengan masih menatap layar kosong handphone ku.
Setelah beberapa saat Istri beliau tiba. Oh jadi ini istri nya. Ternyata mereka baru menikah seminggu yang lalu, pantas saja aku nggak tau. Aku dan Mang Udin pamit pulang. Deni dan istri nya mengucapkan terimakasih kepada kami. Uang ku yang terpakai juga sudah dikembalikan oleh istri nya. Syukurlah.
Di mobil aku duduk tak bersemangat.
“Oh iya neng, mamang lupa kalo tadi Bik Inah bawain makan malem buat eneng sama temen nya. bawa pakaian fawas juga, jaket juga di bawa dua neng.” Papar mang Udin.
“Udahlah mang, anggap aja male mini gak ada kejadian apa apa. Oke?” Ucapku tegas.
Mang udin terlihat heran. Tapi dia hanya mengangguk pelan.
**
Pagi yang cerah, aku berjalan di pinggiran taman kampus. Masih dalam proses menetralisir hati.
“WAFAAAAAAAAAA!!!”
Aku di kejutkan oleh teriakan seseorang yang aku kenal. Aku menoleh. Oh salma. Ucapku dalam hati. Dia menghampiriku. Memukul mukul pundak ku. Mengguncang bahuku. “anak ini kenapa lagi sih” Ucapku dalam hati.
“Kamu tau nggak fa??????” Mata Salma tiba-tiba seperti ingin lompat keluar.
“Apa sih? Heboh banget??” Jawabku datar.
“Itu, Dia fa… orang yang semalem baru aja kita omongin loh, si Deni, ternyata fa!!! Dia udah nikah seminggu yang lalu!!! Hhhuuh” papar salma heboh.
“oh, itu.” Jawabku.
“Loh??? Kamu kok biasa aja? Aku kira bakal ngamuk-ngamuk” tanyanya heran.
“Udah tau kok.” Aku melanjutkan langkah ku.
“hah?? Kok kamu udah tau dan nggak ngasih tau aku??” ucap Salma seraya mengejar langkahku.
Akhirnya aku menceritakan kejadian malam tadi ke Salma. Salma justru tertawa.
“kasian temen aku, kita beli ice cream yuk??” Ledek Salma.
**
Tiga hari berlalu, seperti tak ada kejadian apa-apa. Aku juga sudah kembali ke duniaku. Menghabiskan energy saja memikirkan yang tidak-tidak.
“hooiii!! Ngelamun lagi!!!” Salma tiba-tiba datang dari belakang ku. Anak ini selalu saja bikin ribut. “ssstttt!! Jaga suara kalo lagi di perpus!” Jawab ku berbisik padanya. “eh fa, tadi waktu di kantin, aku liat mas mas yang dulu kamu taksir itu loh.” Bisik Salma kepadaku. “Ya Ampun bocah!! Ada pembahasan laen nggak sih??” Aku mulai kesal. “hei, sekarang dia udah nggak selugu yang dulu loh fa, cakep banget, keren, sholeh lagi. Udah itu cocok dan pas banget sama kamu” Salma makin menjadi. “Mau aku sumpel pake buku apa pake rak buku??” Jawab ku sangar. “wiiiih,,, galak amat. Oke oke! Keep silent please nyonyaaaaa”. Hhffttt, dari tadi kek diem. Gumamku dalam hati.
Dulu, waktu semester 1, aku memang sering nyeletuk, wih keren ya orang itu, waw cakep banget, ya allah ngfans deh sama yang itu. Yaah, namanya juga mahasiswa baru lulus SMA. Dan orang yang selalu denger celetukan ku ya si Salma. Apesnya, dia nggak pernah lupa nama-nama dan wajah korban celetukan ku. Dan sekarang, di semester akhir, entah kenapa tiba-tiba Salma jadi sering ngungkit-ngungkit masa lalu aku. Entahlah.
“Ke kantin yuk Sal, laper nih.” Ajakku.
“Apa? Kantin??? Jiyeeh, penasaran yaaa, mau liat mas-mas yang aku bilang tadi??”.
Ya Ampun!!! Kayak nya aku salah ngomong lagi.
“Mau nggak? Kalo nggak ya udah, aku pergi sendiri.” Aku beranjak pergi. Salma cepat-cepat mengikutiku dari belakang.
Saat aku membuka pintu perpus untuk keluar, tiba-tiba ada seseorang menghalangi jalanku. Lebih tinggi dariku, sehingga aku harus mendongakkan kepala untuk melihatnya.
DEG!!!! Lagi lagi perutku seperti di aduk-aduk, di bolak-balik isinya. Aku berusaha tenang. Mengatur nafas perlahan. Salma yang di belakangku hanya diam tak bergeming.
“permisi mba..” Ucap laki-laki yang berdiri di hadapan ku. Oh, sepertinya aku yang menghalangi jalan nya.
“Oh iya iya, maaf. Silahkan” aku bergeser sedikit. Lalu ia pun berlalu begitu saja.
“PLAK!” Salma menepuk pundak ku, aku sedikit terhenyak.
“Benerkan yang aku bilang, keren kan??” Ia mulai lagi meledek ku.
“Apaan sih, emang dia siapa?” Jawabku sok santai.
“alaaaah, pura-pura nggak kenal lagi. Basi wooi basi, hahaha” Salma makin menjadi.
Aku bergegas menuju kantin. Aduh, rasa apa lagi ini. Baru satu kemarin selesai di netralisir, sekarang muncul lagi. Astaghfirullah. Tenggelam di laut lepas sepertinya akan sangat menyenangkan di saat-saat seperti ini.
Setelah memesan makanan, aku duduk di bangku paling ujung. Jika tenggelam di laut lepas tak bisa ku lakukan saat ini, setidak nya tenggelam dari keramaian anak-anak akan sedikit membuatku lega.
Makanan yang ku pesan sudah datang. Aku mulai makan, tak memperdulikan orang sekitar. Tapi tiba-tiba seseorang duduk di hadapanku. Aku mendongakkan kepala dan menatapnya.
“Assalamualaikum Wafa…” Ucapnya sambil tersenyum manis kepadaku.
“Wa’alaikumsalam, eh, Icha… apa kabar??? Kemana aja kamu?? Udah lama nggak keliatan”
“Iya, maaf ya jarang ikut partisipasi lagi di Dakwah Kampus nya, lagi ada yang di urus nih.” Jelasnya.
“Cieeh,, ngurus apa nih?? Undangan??” candaku.
“Iya fa. Alhamdulillah.”
Glek! Aku terkejut. “Kamu serius Cha?? Kapan??? Kok baru ngasih kabar siiih????” Jawab ku terkejut.
“hehe, belum sampe cetak undangan kok, baru ta’aruf. Insya allah pekan depan khitbah.”
“Pekan depan??? Siapa?? Siapa ikhwan nya?” tanyaku antusias. Icha adalah salah satu sahabatku sejak SMA. Dan ternyata kami di pertemukan di kampus yang sama, meskipun beda fakultas.
“Tapi kamu jangan sebarin dulu yah, ini masih bersifat rahasia.” Suara Icah menjadi lebih kecil volume nya.
Aku mengangguk kuat berkali-kali. Berusaha meyakinkan Icha bahwa aku akan menjamin rahasianya.
Icha mendekatkan wajahnya ke arahku. Mulai akan berbisik sesuatu.
“Nama nya,,,,,