Terdiam
Menyusuri warna warni lukisan
Lukisan sang pencipta alam
Meneliti satu persatu
Kesempurnaan penciptaan tuhan

Mencari
Masih mata ini mencari
Sesuatu yang mungkin tak layak disyukuri
Tapi semakin ku cari
Semua ini sempurna, dan harus aku syukuri

Aku terpana
Menerima belaian lembut angin di muka
Memberi suhu tenang dalam mata
Membalut rasa nyaman dalam jiwa
Lalu ku sambut senyum kesyukuran
Hanya untuk-Nya

Disudut jendela
Sajak ini aku layangkan bersama nya


              
  “Beberapa tahun silam, saat mayoritas anak SMA kelas akhir sibuk kulur kilir kampus idamannya untuk mengurus pendaftaran dan lain lainnya, aku hanya terduduk menatap kesibukan mereka. Keluar masuk kantor TU, Kepala Sekolah dan seabrek urusan lainnya. Dan aku masih tetap terpaku di tempat ku. Karna hidup di atap yang sama, makan di dapur yang sama, tidur di ruangan yang sama, cukup banyak yang ku tahu dari cerita mereka. Serunya SNMPTN, asyik nya berlenggak lenggok di kampus idaman dan masih banyak segudang cerita lainnya.
                Iri? Pasti! Rasa iri itu sudah sering keluar masuk kedalam sanubari. Aku fikir aku tak akan pernah tertarik mengikuti jejak mereka mendaftar ke kampus atau universitas negri lainnya. Karna entah sejak kapan, sudah ada sebuah kampus yang tersimpan rapih dalam sebuah asa ku.
                Tak jarang bisikan-bisikan itu menyelinap dalam telingaku. Berkata bahwa untuk masuk ke kampus idaman ku sangatlah sulit. Saingan dari seluruh penjuru Indonesia bukanlah hal yang remeh. Lalu aku siapa? Apakah sanggup aku bersaing dengan mereka? Yang notaben nya berlatar belakang pesantren-pesantren ternama dengan pendidikan yang sangat berkualitas?
                Aku terdiam untuk waktu yang panjang. Beberapa kali mencoba menghubungi umi, meminta izin untuk ikut mendaftar di salah satu Universitas di Jogjakarta. Tetap saja aku gagal merayu sang mahkota keluarga. Umi tak jua mengatakan iya. Ah robby, lalu bagaimana jika aku tak di terima di LIPIA? Kampus yang didambakan para pecinta ilmu? Umi tak habis-habisnya terus memasukkan keyakinan pada ku, aku pasti di terima. Dan aku harus yakin itu. Kata umi, suatu keyakinan akan merubah keadaan. Dan aku percaya. Ku mulai kembali menata tujuan seperti semula.
                Tibalah saat itu libur sekolah bagi santri kelas akhir. Aku memutuskan untuk pulang ke kampung halaman, dengan menempuh perjalanan selama 12 jam perjalanan menggunakan kereta dari Palembang menuju Lampung. Dua hari aku menikmati kebersamaan bersama keluarga, tiba-tiba seorang teman mengirim sms yang berisi berita bahwa LIPIA telah membuka pendaftaran, mulai dari kemarin hingga lima hari lagi. Ah! Kenapa begitu mendadak??? Sedang aku masih menikmati kebersamaan bersama keluarga??? Aku bertanya pada teman yang mengirimiku sms tersebut, kapan ia akan berangkat ke Jakarta dan apa saja persyaratannya. Panjang lebar ia jelaskan, intinya aku tetap harus kembali ke Palembang untuk mengambil segala persyaratan di kantor Madrasah. Malam itu juga aku berangkat menuju kota yang terkenal dengan mpek-mpek dan jembatan Ampera nya. Aku terus menjaga komunikasi dengan temanku, ia bilang ada dua santri wati, aku dan dia, juga lima santriwan yang juga akan berangkat ke Jakarta. Disini aku sempat putus asa. Ia bilang, mereka akan berangkat ke Jakarta lusa. Menggunakan pesawat karna mengejar waktu. Selain waktu pendaftaran yang mepet, tujuh hari lagi pesantren akan mengadakan wisuda santri kelas akhir. Dan tentu saja kami wajib dan ingin hadir. Aku lemas di kereta. Ah, bagaimana mungkin aku katakan ke abi kalau aku ingin ikut bersama mereka ke Jakarta dengan menggunakan pesawat? Padahal aku tahu kondisi keuangan di rumah sangat tidak memungkinkan. Ditambah KTP ku yang baru bisa di ambil lusa. Gelisah benar-benar memporak porandakan hati ku. Lalu jika tidak dengan mereka, dengan siapa aku ke Jakarta? Padahal sekalipun aku belum pernah pergi keluar pulau sendirian??? Ya allah, aku benar-benar ingin berhenti melangkah. Sempat terbesit rasa kesal terhadap temanku, kenapa ia tak membersamaiku saja menggunakan bis. Malam itu perjalananku ke kota Palembang seperti sesak dan penuh kepenatan.
                Pagi-pagi sekali kereta sudah tiba di stasiun Kertapati. Usai sholat shubuh aku langsung mencari bis untuk melanjutkan perjalanan ke pesantren tempat aku menimba ilmu. Sekitar satu jam perjalanan akhirnya aku tiba di pesantren. Dengan langkah gontai aku menuju asrama, mengistirahatkan sejenak tubuh yang lemah ini. Seorang teman menyapa ku, ia tahu aku kembali karna ingin mengurus segala persyaratan untuk mendaftar di LIPIA. Dengan senyumannya yang “khas jawa” itu ia seolah sedang memberi suntikan semangat dalam diriku. Aku bergegas membersihkan diri, kemudian mengajak teman yang tadi sudah memberiku semangat untuk menemani ku ke kantor madrasah. Tak begitu sulit mengurus seabrek persyaratan. Ah leganya. Setelah cukup beristirahat, sore harinya aku kembali ke Lampung dengan menggunakan kereta yang sama dan dari stasiun yang sama juga. Remuk? Ah tidak juga ternyata, buktinya tulang-tulangku masih lengkap tanpa ada yang rapuh. Alhamdulillah. Singkat cerita, paginya aku tiba di Lampung. Setelah seharian mengurus persyaratan di kantor kepolisian dan kecamatan, malamnya aku berangkat ke Bogor. Ya! Bogor. Nanti dari Bogor, ada kakakku yang siap mengantarku ke Jakarta untuk mendaftar kuliah di LIPIA. Teman-temanku? Ah mereka besok pagi akan terbang dengan tenang melewati selat sunda, dan aku malam ini tengah menyebranginya dengan sebuah kapal sederhana.
                Begitulah perjalanan singkat kisah tentang seorang anak gunung yang ingin kuliah di Jakarta, sampai akhirnya Allah menghendaki keinginannya itu. Lalu apakah kisahnya usai sampai disitu? Ternyata tidak. Diterimanya si anak gunung itu di LIPIA ternyata bukanlah akhir perjuangannya. Di beberapa semester yang ia lalui, ia harus berhadapan dengan masalah-masalah lainnya. Sampai nyaris putus asa. Anjlok nya nilai di beberapa semester membuat ia terlambat dari waktu yang seharusnya. Bisa dikatakan, ia berhenti kuliah satu tahun. Banyak pengalaman menarik disatu tahun berhentinya ia dari kuliah di LIPIA. Ia mulai mengerti, betapa mengais rizki di Jakarta bukanlah hal yang mudah. Bekerja di sebuah kantor selama tiga bulan, meski hanya duduk manis di depan layar, tapi tetap saja ia merasa lebih baik duduk manis di hadapan dosen dan mendengarkan berbagai ilmu-ilmu luar biasa. Selalu terbesit rasa sedih, saat teman-temannya asyik berjalan menuju Kampus Biru, dan ternyata ia harus berdesakan di dalam busway menuju kantornya. Tapi inilah hidup, ia akan terus berputar mengikuti kehendak Sang Pencipta. Dan kini, ia ditakdirkan kembali dalam kehidupan kampus tersebut. Setelah beberapa kali terbentur karang yang mungkin menyakitkan, akhirnya kini ia kembali merasakan manisnya belajar dan berukhuwah di kampus itu.



               
                Haus ilmu adalah hal yang wajib ada dalam setiap diri kita. Terutama ilmu-ilmu syariat. Tak menafikan ilmu dunia pun harus kita miliki. Miskinnya moral dan akhlak pemuda zaman sekarang menjadi PR nomor satu bagi kita.
                Belajar dan menimba ilmu sebanyak banyak nya adalah hal yang sangat di anjurkan. Mempelajari apa-apa yang haq dan apa-apa yang bathil. Namun belajar saja tak cukup. Untuk apa kita tahu mana yang haq dan mana yang bathil jika kita tak menyemai yang haq dan tak mencegah yang bathil?
                Seperti kata sebuah pribahasa, Ilmu tanpa amal bagai pohon tak berbuah. Buat apa berilmu jika tak beri tahu orang sekitar mu? Buat apa berpendidikan jika tak mendidik remaja-remaja di lingkungan mu? Jangan pernah sungkan menyampaikan atas ilmu-ilmu yang telah kita dapat.
                Sangat di sayangkan, jika ada pemuda desa yang haus ilmu lalu pergi merantau ke kota untuk belajar namun setelah ia sukses dengan pendidikan nya ia justru enggan kembali ke desa nya yang sudah sangat jelas membutuhkan cipratan cahaya dari nya.
                Maka, bergeraklah menimbanya (ilmu) lalu tuang kan ia kembali di tanah kau terlahir.


Lagi, ku temui hari ini

Hari dimana hati bak kertas di remas
Hari dimana hati bak layangan yang sesekali di tarik sesekali di ulur namun kemudian dilepas
Hari dimana hati tak mampu meredam lagi
Rasa yang berkecamuk kian tak berarti

Lagi ku temui hari ini
Hari dimana airmata hanya sebatas ungkapan sesal dan duka
Hari dimana senyum tawa tak seindah biasanya
Hari dimana yang ku rasa hanya cambuk tak bernyawa

Lagi ku temui hari ini




Bukan kali pertama aku berpetualang, melangkahkan kaki dengan ringan untuk sebuah perjalanan.

Perjalanan ku tak pernah hampa, tak pernah tanpa rasa. Tak pernah sepi meski kadang ku lalui sendiri. Tapi teap saja semua aku nikmati.

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, seratus langkah, seribu langkah tak pernah aku perduli.
Hanya menyapa angin, alam dan orang sekitar yang ku hadapi.

Perjalanan tak kan berkesan tanpa senyuman.
Ya! Senyuman kesyukuran dan kebahagiaan.

Inilah caraku mengukir jejak kenangan,
Menyusuri jalanan,
Menapaki bebatuan,
Menyapa alam ciptaan Tuhan,
Memandang keindahan pelangi,
Menikmati senja di tiap hari,
Mensyukuri nikmat yang telah di beri.

Kadang ada pertemuan dalam sebuah perjalanan
Disitulah momen terindah
Mengucap salam peluk mesra
Menggandeng tangan erat persahabatan
Bertukar cerita, rasa dan mimpi
Saling mengirim doa dalam sunyi
Hingga terkadang rindu menelusup tajam ke relung hati.

Dan ketika mentari menyapa pagi
Perjalanan ku kan di mulai kembali
Mengukir jejak kenangan
Mencipta senyum kesyukuran
Yang terbias dalam rasa kebahagiaan.
Jakarta, 20 April 2014


“Ah, kamu terlalu banyak bicara! Kurangi bicara mu!”
“Kamu cengeng! Bisa nya nangis!”
“Ih, tuh anak kenapa sih rusuh mulu di temlen, ga ada kerjaan apa?!”
Dan masih seabrek lain nya para komentator ini bicara.
Sindiran memang bisa datang dari mana saja. Ekspresi sang penyindir dan korban sindiran pun berbeda-beda. Ada ia yang dengan sejuta masa bodoh nya, ada juga ia yang terlalu peka hingga sindiran seolah cambuk baginya.
Kita memang tak pernah luput dari kesalahan. Sengaja atau tidak. Bahkan saya pribadi pun demikian. Tapi tulisan ini semata-mata adalah ungkapan hati pribadi, semoga bisa saling menginspirasi.
Menerima orang lain dengan segala kelebihan dan kekurangan nya memang tidak semudah menerima uang. Tapi perlu anda bedakan manusia tak seperti rumah makan! Yang bisa anda pesan porsi rasa bahkan semua sesuai selera anda!
Setiap orang memiliki karakter yang berbeda, kenapa kita justru mempersulit diri dengan mengkritik bahkan menyindir karakter orang lain? Terusik kah? Jika ada jalan untuk menghindari orang yang karakter nya mengusik mu, kenapa tidak kau lakukan saja?
Simpel! Saat kau mengkritik dengan nada ketus, bukankah seolah-olah dirimu telah tersakiti? Kenapa menyakiti diri sendiri dengan harus mengkritik orang lain yang bahkan tak pernah sedikitpun memiliki keinginan mengusik mu? Jangan memesan karakter orang! Jika ingin mengkritik, lakukan dengan hikmah dan tutur kata yang indah. Akan beda hasil nya adonan yang kau olah dengan lembut dan adonan yang kau olah dengan kasar. Akan beda hasil nya anak yang kau didik dengan lembut dan anak yang kau didik dengan keras bahkan sering menyakiti hatinya.
 Ini hanya sebuah catatan, ungkapan hati seorang yang cerewet, yang mungkin tak jauh lebih baik dari anda. Mohon maaf jika catatan ini termasuk catatan yang mengusik warna dalam wajah mu.
~Jakarta, 17 April 2014
Langit menurunkan hujan
Tanpa berharap hujan kan berbabalik deras dari bumi kepadanya
Namun air-air tersebut akan memuai
Perlahan lahan dengan kepastian
Hingga bertemu langit kembali

Dan seperti itulah cinta
Ia bukan tak berbalas
Hanya masih menanti beberapa senja
Mungkin ratusan bahkan ribuan senja



Kau yang bekerja
Untuk Bangsa dan Negara
Meski tanpa tahta

Kau yang bekerja
Untuk Bangsa dan Negara
Meski tak berbalas suara

Tapi tetap saja kau bekerja
Tetap saja kau menebar cinta
Untuk mereka yang mengais kesejahteraan di jalan sana

Lalu kenapa masih disangka
Bahwa orang-orang seperti mu hanya mengejar tahta dan harta?
Bahkan disaat cinta mu tak berbalas suara
Biarlah, biarkan mereka berkata
Seperti hujan yang kan kembali ke langit
Secara perlahan lahan
Seperti itulah mereka kelak kan menyadari
Betapa tulus cinta yang kau tanam
Masalah kapan “kelak” itu kan terjadi
Kembalikan pada Nya yang slalu mengisi cinta di hari hari kita

مَنْ عَمِلَ صالِحاً فَلِنَفْسِهِ وَ مَنْ أَساءَ فَعَلَيْها ثُمَّ إِلى‏ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ          

“Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kamu semua akan dikembalikan kepada Tuhan-mu.”
Jakarta, 15 April 2014