Untuk beberapa waktu


Aku melupakan Mu


Terbuai dengan sinar cahaya semu


Tanpa sadar diri aku terbelenggu



Untuk beberapa saat


Aku rasakan bahagia berlipat


Hanya karna seseorang 


yang dengan sengaja slalu ku ingat



Untuk beberapa kali


Aku lupa mawas diri


Terpesona dengan seorang makhluk Rabbi


Yang hanya sekian kali ku temui



Untuk sekarang


Sesal itu meradang


Sakit nya bak badai menerjang karang



Illahi, ruang jiwa ku yang tlah ku nodai


Bantu aku memperbaiki


Menghapus luka oleh serpihan cinta yang tak nyata


Meski pedih ku rasa


Namun cinta Mu akan menyembuhkannya


Rabbi, tak ingin lagi ku ulangi


Memelihara rasa yang tak tentu akhirnya


~Syair Cinta 16 Februari 2014





             
                Berikut cuplikan percakapan antara akhwat karir dan wanita karir :
Maria : “Kamu sudah bekerja atau masih kuliah?”
Syahidah : “Saat ini saya sedang bekerja karna kuliah yang sedang tertunda.”
Maria : “Berapa gaji yang kamu dapatkan dari pekerjaan mu?”
Syahidah : “Sekitar 2,3 juta.”
Maria : “Baiklah, saya akan menawarkan pekerjaan bagus untuk mu. Saya akan membantu mu. Kamu bisa menghasilkan uang 50 sampai 100 juta perbulan nya tanpa harus mengeluarkan tenaga.”
Syahidah : “Wow, bagaimana bisa?”
Maria : “Tentu bisa, cukup dengan kamu invest 1 juta sekarang, dan kamu akan mendapatkan vitamin yang jika kamu beli vitamin tersebut di toko-toko harganya bisa mencapai 1,5 juta. Tapi disini kamu mendapatkan harga khusus.”
Syahidah : “Lalu?”
Maria : “Lalu setelah kamu menginvestasikan uang mu dan mendapatkan produk berupa vitamin, kamu hanya cukup membantu temanmu yang lain untuk berkesempatan menjadi orang sukses di masa depan.”
Syahidah : “Oh ya? Benarkah?”
Maria : “Ya. Tentu saja. Mudah bukan?”
Syahidah : (berpose berpangku dagu sambil mengangguk-anggukan kepala beberapa kali)
Maria : “Bagaimana? Kamu tertarik?”
Syahidah : “Saya rasa saya belum tertarik.”
Maria : “Kenapa? Baiklah, coba kamu bayangkan. Sejak kecil sampai sedewasa ini sudah berapa miliyaran rupiah yang orangtua mu keluarkan untuk membiayai mu? Mulai dari susu saat balita, pakaian, mainan, biaya sakit, jalan-jalan, sekolah sampai bahkan kuliah, dan kamu saat ini hanya mendapatkan income atau gaji senilai 2,3 juta. Kamu fikir itu adil? Padahal orangtua mu sudah mengeluarkan biaya sampai ratusan juta jika mau dihitung.”
Syahidah : “Adil.”
Maria : (Tampang shock) “Adil??? Kamu yakin ini adil?”
Maryam : “Ya. Saya sangat yakin ini adil. Karna memang mungkin pekerjaan saya ternilai dengan jumlah sekian.” “(toh rejeki sudah allah atur, kita hanya berusaha semaksimal kita bisa”) ucap Maryam dalam hati.
Maria : “Baiklah, mungkin memang saudari Syahidah berjiwa besar. Oke, kita langsung saja urus investasi pembayaran nya di ruangan saya ya. Kamu pengguna Bank apa?”
Syahidah : “Bank Daerah.”
Maria : “Hmm, kami tidak melayani transaksi Bank Daerah sebenarnya, tapi tak mengapa. Bisa di atur nanti. Mari..” (Maria mulai berdiri)
Syahidah : “Tunggu. Saya tidak bisa memutuskan untuk berinvestasi atau tidak saat ini.”
Maria : “Kenapa? Kamu ingin menunda kesuksesan mu?”
Syahidah : “Tidak. Tapi saya harus berkonsultasi ke orangtua dan beberapa teman dekat.”
Maria : “Waah waah... Apakah kesuksesan mu akan selamanya tergantung pada teman-teman mu? Lalu jika teman-temanmu masuk ke dalam sumur, apakah kamu akan mengikuti mereka?”
Syahidah : “Bukan seperti itu maksud saya. Setidaknya saya harus meyakinkan diri saya dan orangtua saya.”
Maria : “Bukankah jika kamu sukses orangtua mu juga akan merasakannya? Baiklah, begini. Misalkan kamu akan menikah, tapi kedua orang tua mu tak mengizinkan. Bagaimana? Apakah kamu tetap tidak akan menikah?”
Syahidah : “Ya. Tentu saja saya tidak akan menikah.”
Maria : “ckckck... Oke, saya akan anggap anda berjiwa besar. Baiklah, kalau kamu belum bisa memutuskannya sekarang. Oh iya, ini ada tiket acara kami yang akan di selenggarakan pekan depan. Menghadirkan si pemilik perusahaan loh, langsung dari luar negri.”
Syahidah : “Wah, maaf tapi saya pekan depan sudah ada acara.”
Maria : “Acara apa? Jam berapa? Luangkan waktu mu satu sampai dua jam untuk datang ke acara kami. Harga tiket hanya 40 ribu saja kok.”
Syahidah : “Tidak bisa, akhir pekan saya pekan depan menentukan masa depan saya dan bangsa ini.”
Maria : “Wow... Bbaiklah, kalau begitu kamu boleh hanya membeli DVD ini, berisi tentang seluk beluk perusahaan kami dan cara-cara bagaimana kita bisa mendapatkan income yang besar dengan kerja yang ringan, atau juga di sebut passive income. Harga nya hanya 20 ribu. Kamu bisa menonton nya lagi di rumah, siapa tahu setelah ini kamu tertarik untuk bergabung bersama kami.”
Syahidah : “Saya rasa saya tidak bisa membelinya.”
Maria : “Kenapa? Apakah terlalu mahal? Baiklah, tak apa. Oh ya, di dalam sedang ada pelatihan untuk member baru. Kamu boleh ikut serta, ayo masuk, akan saya antarkan kamu kedalam. Gratis kok tanpa di pungut biaya.”
Syahidah : “Tidak, terimakasih. Saya harus pulang saat ini. Permisi.”


                Ya. Demikianlah sedikit kutipan percakapan dari apa yang terjadi hari itu. Syahidah merasa dirinya diculik. Karna saat bertanya pada temannya hendak kemana mereka akan pergi, temannya tak memberi tahu. Syahidah beranggapan bahwa akan diajak jalan-jalan akhir pekan oleh temannya. Namun sangat di sayangkan, temannya justru membawanya ke sebuah kantor dan menawarkan bisnis yang sama sekali tak ia minati.
                Selain kecewa atas perlakuan sahabatnya, Ia pun kecewa ternyata si empu perusahaan tersebut berbeda keyakinan dengannya. Termasuk Maria, atasan teman Syahidah dan beberapa manajer atau leader dalam perusahaan tersebut. Wajar saja jika ia beranggapan tak adil saat apa yang orangtua keluarkan untuk membiayai anaknya sejak kecil dan ternyata dewasanya anaknya hanya mendapatkan gaji 2,3 perbulan. Sudut pandang Maria dan Syahida bertolak belakang. Syahida yang saat itu juga mengingat ayat illah nya yang berbunyi : “Maka ni’mat tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan?” tentu tak memiliki keberanian untuk menjawab dengan jawaban : “Tidak adil”. Sedangkan tuhan nya telah memberi berlimpah nikmat dan karunia terhadapnya. Berbeda dengan sudut pandang Maria. Entah dari sisi mana Maria menyimpulkan itu tidak adil.
                Kemudian tentang perizinan orangtua. Mana bisa Syahidah tetap menikah tanpa restu orangtua? Sedang redho Allah ada pada redho orangtua. Begitupun saat ia harus memutuskan sebuah perkara, selalu orangtua yang menjadi urutan kedua tempat ia berkonsultasi setelah Allah tentunya. Dan juga, kalaupun Syahidah tertarik, ia akan lebih memilih berinvestasi dengan pengusaha-pengusaha muslim lainnya. Bukan berarti Syahidah tak mau bermuamalah terhadap yang berbeda keyakinan, hanya saja sistim dan prosedurnya yang sepertinya kurang bisa ia terima.Berbagai cara Maria gunakan untuk menarik simpati Syahidah. Sampai meminta Syahidah untuk ikut di acaranya akhir pekan nanti. Tentu Syahidah menolak. Bagaimana tidak, pemilu sudah di ambang pintu, akhir pekan nya sudah di kontrak mutlak untuk pemenangan. Sempat muncul ide "nakal" Syahidah saat itu. Ia ingin memprospek balik si Maria dengan tawaran bahwa Syahida akan dengan senang hati berinvestasi asalkan Maria dan atasan nya serta para member yang sudah tergabung serentak memilih CAD-CAD dari partai yang Syahidah dukung. Bukankah ini ide yang sangat "nakal"? Tapi Syahidah menahannya. Ia hanya tersenyum geli jika mengingat "ide nakal" yang melintas saat itu. 
                Sangat disayangkan, beberapa teman nya sudah ada yang terjalin hubungan bisnis dengan perusahaan tersebut. Dan yang paling ia sayangkan adalah saat temannya merahasiakan kemana ia akan diajaknya. Merasa seperti diculik dan di bohongi. Mungkin akan lebih baik lagi jika Syahidah berhati-hati saat diajak berpergian oleh orang lain, walaupun itu adalah teman yang sudah beberapa tahun ia kenal.

                                                *di ambil dari kisah nyata penulis. Semoga dapat mencerahkan para pembaca. Nama Syahidah dan Maria adalah nama samaran. Bukan nama yang sebenarnya.Jumlah keuangan juga sengaja saya samarkan, dan bukan seperti sebenarnya.





Pagi ini saya ingin berterima kasih kepada Pak Polisi. Rasanya bahagia sekali menyaksikan apa yang terjadi di jalur busway Mampang Prapatan. Saya yang biasa nya berangkat kerja menggunakan Trans Jakarta, dan perjalanan terasa biasa saja, pagi tadi terasa berbeda.

                Penuhnya penumpang membuat saya tidak menyadari bahwa di depan bus yang saya tumpangi sedang ada kejadian “lucu” dan “menyenangkan” untuk disaksikan. Setelah beberapa saat, melihat beberapa orang di sekitar saya sudah mulai mencuri-curi pandang kedepan, sayapun penasaran. Saya coba menjinjitkan kaki, oh masih tak kelihatan. Kemudian saya coba menunduk, mencari-cari celah. Tetap saja tak terlihat. Kemudian bus yang saya tumpangi bergerak perlahan. Mulai saya bisa menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi.

                Beberapa waktu lalu saya sering mendengar cerita tentang kejadian seperti ini dari beberapa teman dan berita di media online. Belum pernah sebelumnya saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri. Para pengendara motor yang melintasi jalur busway sedang sibuk memindahkan motor nya dari jalur busway ke jalur umum. Dan pada jalur tersebut, tinggi separator mencapai 1 meter. Para pengendara motor yang saya saksikan tadi mulai mengangkat motor mereka masing-masing. Wajah-wajah mereka nampak gelisah. Mungkin, takut jika harus membayar denda sebesar lima ratus ribu rupiah.

                Sebelumnya saya katakan, ini adalah hal yang lucu dan menyenangkan untuk disaksikan. Anda mungkin beranggapan saya jahat karena bahagia diatas kegelisahan orang banyak. Bukan. Bukan seperti itu maksud saya.

                Ada hal yang menarik yang saya ambil dari kejadian pagi tadi. Sederhana saja, awalnya para pengendara motor berusaha sendiri-sendiri untuk memindahkan motornya atau mengangkat motornya agar berpindah jalur. Namun, semakin ia usahakan, usahanya semakin sia-sia. Beratnya motor tentu tak akan sanggup di angkat sendiri. Selang beberapa saat akhirnya beberapa pengendara mulai “bergotong royong” memindahkan motor-motor mereka. Ah senangnya. Kemudian, ada beberapa pengendara yang motornya sudah berpindah, bahkan mereka sudah siap melaju. Namun tiba-tiba tak jauh dari mereka masih ada beberapa motor yang tersangkut di separator, kemudian pengendara motor yang siap melaju itupun turun dan turut membantu pengendara lain yang motornya masih tersangkut. Inilah mengapa saya berterimakasih kepada Pak Polisi yang tadi turut menyaksikan. "Gara-gara" Pak Polisi mereka menuai pahala di pagi hari. "Gara-gara" Pak Polisi mereka saling tolong menolong di pagi tadi.

Semua akan indah jika kita saling bahu membahu, saling tolong menolong. Semua akan mudah jika kita saling meringankan beban satu sama lain.

                Akan tetapi, bukankah lebih indah lagi jika kita saling mengingatkan untuk mematuhi tata tertib lalu lintas? ^___^  



                Senin 17 Februari 2014, KAMMI Komisariat LIPIA menggelar aksi “Galang Dana” untuk membantu korban Erupsi Gunung Kelud. Unik nya, karena jadwal kuliah antara ikhwan dan akhwat berbeda, aksi ini pun di laksanakan dengan penjadwalan. Ikhwan beraksi di pagi hari sampai menjelang dzhuhur, sedangkan akhwat turun ke jalan dari ba’da dzhuhur sampai menjelang maghrib. Ada beberapa titik yang mereka jelajahi. Lampu merah Ragunan, perempatan Pejaten Village dan lampu merah sekitar halte Jatipadang.
                Wajah-wajah sumringah para penggalang dana tersebut di sambut ramah oleh para donatur yang saat itu melintasi lampu merah. Dalam aksi tersebut, ada seorang donatur yang dengan sukarela memberikan celengannya yang penuh dengan uang recehan. Subhanalllah, indahnya berbagi ^^.
                Alhamdulillah, aksi tersebut menghasilkan donasi sebanyak Rp.2.685.750,-. Dan insya allah aksi akan dilanjutkan di kampus mereka, LIPIA Jakarta. 

Oleh : Afifah Nusaibah (Dept. Media Komunikasi dan Informasi)




                
 Aku bekerja lebih keras dari teman-teman ku lainnya. Aku bekerja lebih sering dari teman-teman ku lainnya. Aku bersuara lebih nyaring dari teman-temanku lainnya. Aku berceloteh lebih lama dari teman-temanku lainnya.
                Dia mengotak-atik tubuh ku. Di aturnya jam 02:30, kemudian jam 03:00, kemudian jam 03:30, kemudian jam 04:00, kemudian jam 04:30. Dan begitulah setiap hari. Oh ya, setiap kali bersuara, bisa 5-10 menit lamanya. Ah betapa lelahnya diri ku. Tapi, si pemilikku??? Saat aku dengan lantangnya bersuara, ia bahkan bergerakpun tidak. Katanya, ia mengaturku seperti ini agar ia mudah terbangun. Katanya ia mengaturku seperti ini agar tidurnya tak nyenyak kemudian dapat bangun lebih pagi. Katanya~
Nyatanya???                                                
Justru aku terus berdering sepanjang sepertiga malam~
Ah, andaikan aku dapat berkata “aku lelah terus berdering lantang, tapi kau sama sekali tak memperdulikanku!”

Kau hanya akan membuka mata mu jika seseorang telah berkata “neng, udah adzan shubuh loh dari tadi”.
Kemudian kau terbangun dan berkata “Ah, masa sih??? Kok alarm aku gak bunyi ya?”
Lalu seseorang yang membangunkan mu tadi hanya tersenyum getir. Tak tahukah kau jika ia setiap malam selalu sholat dalam kebisingan ku??? Andai saja aku dapat menghentikan tugas ku ini dengan sendiri nya. Atau,,, bolehkah aku berpindah menjadi miliknya? Agar aku tak lelah bekerja sepanjang malam.

Begitu lelahnya aku, dan kini aku tak sanggup lagi mengerjakan tugasku. Tekadku sudah bulat. Besok pagi, mungkin kau akan terbangun karna suara yang lebih keras dari biasanya. Kemudian setelah ini, lebih baik kau menggantungkan tidur dan bangun mu pada penciptamu saja. Karna sesungguhnya Ia lah yang berhak mematikan dan menghidupkan mu. Jangan pernah lagi bergantung pada aku dan teman-teman ku. Sungguh, kami tak berdaya membangunkan mu. Mulailah menggantungkan kehidupan mu di esok hari pada penciptamu. Selamat tinggal duhai pemilikku.

*PRAAAAAAAANG*

Sita terbangun dari tidurnya. Ia terkejut melihat di samping ranjang jam weker kesayangan nya jatuh dan pecah. Buru-buru ia memungutnya. Kemudian Zahra (teman satu kost sita di kamar sebelah) masuk dan ikut terkejut.

“Apa yang jatuh Sit?” tanya Zahra.

“Jam  weker aku Ra” jawab Sita dengan nada sedih.

“Wah, mungkin dia kelamaan berdering, sampe jatuh dari meja.” Saut Zahra.

“Aku kan gak bisa bangun kalo gak pake jam weker”. Papar Sita.

“Bisa kok, asal sebelum tidur kamu minta di bangunin sama Allah.” Jawab Zahra sambil berlalu kembali kekamarnya. 

Senyum kecil Zahra tergambar di wajahnya. “Alhamdulillah, setelah ini malam akan kembali tenang”.
    
          Pesan : Buat kamu yang masih ngandelin alarm hape atau jam weker, mulai sekarang beranikan diri untuk berhenti menggunakannya. Karna yang punya kehendak untuk bangun dari tidur itu Allah, so minta bangunin sama Allah. ^^