Negara ku Negara yang kaya. Negara dengan jutaan keindahan, negara dengan ratusan ribu pesona. Negaraku tak lain adalah Indonesia. Di negara ini terhempas luas padang nan hijau hutan nan rimban lautan dengan jutaan kekayaan alam didalamnya juga penduduknya yang selalu bertambah melimpah ruah setiap tahun bahkan harinya. Berjajar pulau-pulau indah dari sabang hingga merauke. Dari papua hingga Aceh. Penuh dengan pesona alam nan menyejukkan mata. Lihatlah betapa kita memiliki “rumah” yang mewah dengan kenikmatan pada alam nya yang melimpah ruah.      
Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim sebagai penduduknya. Bahkan jumlah penduduk muslim di indonesia lebih besar dari jumlah penduduk muslim di Jazirah Arab. Masuknya Islam di Indonesia sangat menakjubkan. Bukan karena peperangan, ataupun dari istana ke istana. Melainkan dari pasar ke pasar alias perdagangan. Pedagang-pedagang yang datang dari negara timur tengah ini dengan sangat antusias menyebarkan Islam di Indonesia. Menyisipkan makna-makna keislaman dalam setiap muamalah (hubungan sosial). Lalu penduduk Indonesia mulai mengenal Islam dan dekat dengan Islam, bahkan kehidupan di Indonesia mulai terwarnai oleh Islam. Hingga tiba saat dimana para penjajah masuk ke negeri ini, menjajah bukan sekadar merampas rempah-rempah melainkan juga merampas Islam dari anak bangsa. Mulai dari penjajahan fisik hingga penjajahan pemikiran. Negara ini selalu dimasuki pemikiran-pemikiran asing, agar luntur Islam di Indonesia, agar muslim di Indonesia goyah dan tak kokoh lagi. Namun pahlawan-pahlawan bangsa ternyata tidak mudah untuk di patahkan. Islam justru menjadi lambang pertahanan dan persatuan para leluhur kita, Indonesia.
Dalam perlawanannya para pahlawan bangsa tak jauh dari kalimat “Allahu Akbar”. Kalimat ini telah mendasar sangat dalam pada jiwa-jiwa mereka, lebih akrab pada lisan mereka dari pada nama-nama mereka sendiri. Kalimat ini menjadi penyokong semangat perjuangan, menjadi penyulut api keberanian dalam perjuangan para pahlawan. Begitu kuatnya pengaruh sebuah kalimat dalam perjuangan para pahlawan demi memerdekakan negara dan bangsanya. Allahu Akbar.

to be continue~



Oleh : Afifah Nusaibah
*Mahasiswi LIPIA Jakarta
            Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim sebagai penduduknya. Hal ini nampak dari ramainya perayaan hari hari besar Islam di Indonesia. Nyaris semua stasiun televisi menyiarkannya, dan hal ini membuktikan memang Indonesia di dominasi oleh penduduk beragama Islam. Islam masuk di Indonesia bukan karena peperangan, melainkan perdagangan oleh bangsa timur tengah yang menyebarkan dakwah islam melalui muamalah jual beli ke negara-negara di Asia termasuk Indonesia. Maka lahirlah ulama-ulama serta guru besar Islam di Indonesia, Buya Hamka salah satunya.
            Tapi tak menafikan bahwa banyaknya muslim di Indonesia belum mampu menampakkan bahwa negara ini benar-benar negara dengan mayoritas penduduknya adalah muslim. Nyatanya, Islam kerapkali di jadikan bahan olokan oleh penduduk negri ini, Islam kerapkali di landa tuduhan dan fitnah di negri bernama Indonesia ini, bahkan mirisnya yang memberikan tudingan-tudingan kasar terhadap Islam, yang juga bersikukuh melecehkan Agama Islam datang dari orang-orang yang mengaku Muslim. Na’udzubillah. Model muslim seperti inilah yang hanya memiliki label muslim di KTP nya, model muslim seperti inilah yang hanya berislam untuk eksistensi dunia semata, tanpa sadar akan nyatanya adzab dari Allah subhanahu wata’ala. Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 61 : “Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” Seperti itulah seseorang yang mengaku dirinya muslim namun dengan giat nya memporak porandakan ketenangan islam dan menghalangi orang-orang yang senantiasa berjuang menegakkan Kalimatullah.
            “Saya Islam karena orang tua saya Islam, dan saya lahir di keluarga Muslim.” Ini bukanlah jawaban atas pertanyaan kenapa anda memilih Islam. Kecuali jika usia anda belum mencapai usia baligh. Seorang muslim yang taat akan senantiasa mencari jawaban kenapa ia berada didalam agama ini. Ia akan senantiasa berfikir kenapa hatinya mantap dan tak goyah berada didalam barisan ummat muslim yang kokoh. Dan dalam tadabburnya, kecintaan serta pengetahuan keislamannya akan senantiasa bertambah.
            Muslim yang berfikir atas jawaban kenapa ia memilih islam, akan bertambah ketaatannya ketika ia mulai menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Sesungguhnya Islam adalah agama yang paling cocok dengan hati naluri manusia. Didalam islam, hukuman bagi seseorang yang telah melakukan pembunuhan akan dibalas dengan dibunuh, ini dinamakan dengan qishosh. Bayangkan saat ini ketika seseorang bertanya kepada anda, “Hukuman apa yang layak diberikan bagi orang yang dengan sengaja membunuh bapak anda?”. Tentu jawaban terbanyak adalah “Dia harus dibunuh.” Begitulah islam mengatur hukum dan tata cara hidup manusia. Islam lah yang paling mengerti akan keadaan manusia. Mulai hal-hal yang kebanyakan manusia menganggap itu adalah hal yang sepele, namun Islam membahasnya dengan sangat detail. Islam memperhatikan seluruh aspek kehidupan manusia. Seorang miskin yang tak memiliki harta apapun, tak akan kalah dengan si kaya yang bisa kapan saja dan dimana saja menginfakkan hartanya. Si miskin masih bisa bersedekah dengan senyuman, si miskin masih bisa bersedekah dengan perkataan-perkataan yang ma’ruf, si miskin masih bisa bersedekah dengan perbuatan-perbuatan yang baik. Indah nya Islam. Subhanallah.
            Dan sesungguhnya, setiap yang terlahir kedunia ini dilahirkan dalam keadaan suci. Maka orangtualah yang berperan menjadikannya Islam, Yahudi, Nashrani atau Majusi. Akan tetapi manusia tak hanya dilahirkan dalam keadaan suci, ia juga di ciptakan dengan sebaik-baik bentuk.
لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”(At-Tin : 4)
Maka dari itu setiap manusia normal seharusnya mampu memilih dan memilah, mampu mengetahui ilmu-ilmu yang ada pada alam, mampu membedakan, menentukan mana yang benar dan mana yang salah, yang baik dan buruk, yang munkar dan ma’ruf, sama hal nya ia dapat membedakan antara yang iman dan kafir. Menjadi muslim yang mampu berkomitmen dengan segala konsep dan ketentuan dalam Islam, atau hanya menjadi manusia yang memiliki label Islam di KTP belaka. Karena pada hakikatnya sebelum ia terlahir kedunia manusia telah mengakui bahwa tuhan mereka adalah ALLAH subhanahu wata’ala.
Allah berfirman :
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ

”Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (Al-A’raf 172)
            Dan masihkan mengingkari, bahwa sejak didalam rahim ibu kita sudah mengakui serta mengimani bahwa Allah lah Rabb semesta alam, dan diciptakannya kita (manusia) dimuka bumi ini tak lain adalah untuk beribadah serta menggapai ridho Nya?
Refrensi           : Al Quranul Karim
                          Apa Bentuk Komitmen Saya Terhadap Islam, Fathi Yakan.
                          ITJ Punya Cerita, Hafidz Ary
                       


Hujan. Dulu aku dan kamu seperti ada jalinan persahabatan. Setiap mendung datang, aku akan bersorak girang. Menantikan hujan segera turun dan membasahi alam. Lalu dengan senang hati aku akan menari-nari di tengah rintik hujan. Semakin deras, maka aku akan semakin senang. Tak ada banjir di desa. Yang aku tahu, banjir hanya ada di jakarta. Pun itu aku ketahui hanya melalui berita di tivi. Ah senangnya, bahkan saat ini aku merindukan perasaan bahagia menantikan hujan tiba.
                Bermain dan berlari-lari di tengah hujan, seakan tak punyai apapun beban kehidupan. Yang kami tahu hanya bersenang-senang dengan air yang berjatuhan. Ah, itu sudah lima belas atau enam belas tahun silam. Perasaan dimana aku akan sangat senang menantikan hujan. Jika parit mulai penuh dengan air, maka kami menyebutnya itu banjir. Padahal aku sekarang sadar, banjir yang sesungguhnya ternyata melebihi genangan air di parit biasa.
                Itulah sekilas masa kecil tentang hujan dan aku.
                Malam ini aku bertemu dengannya. Awal nya aku kira aku ingin menghindarinya. Karena jarak rumah dan tempatku berdiri saat ini cukup jauh untuk di jangkau. Aku berharap aku bisa tiba di rumah sebelum ia menyapaku. Tapi tiba-tiba, seperti di kejar rindu. Ia dengan derasnya mulai membasahi alam. Dan aku terpana, dilema antara memeluk mu atau menunggu kau reda. Nyatanya, rindu ku pun tak tertahan. Tak peduli seberapa derasnya engkau, akhirnya aku masuk ke tengah-tengah mu, Hujan.
                Menikmati air yang berjatuhan, menyusuri jalanan. Basah kuyup kehujanan. Hal yang aku tahu, Hujan mengajari banyak hal. Tentang kesyukuran, tentang ketenangan, tentang keindahan alam, dan tentang kesabaran dalam sebuah perjuangan.

Setiap manusia terlahir dengan cinta. Maka ia hadir kedunia membawa segenggam cinta. Seiring berjalannya waktu tumbuhlah cinta itu. Sebagaimana kita merawatnya seperti itulah cinta memberi efek atau akibat kepada kita.

Banyak cinta yang akhirnya tersesat, tak lain karna si "perawat" nya tidak peduli dan patuhi rambu-rambu atau aturan merawat cinta. Beberapa cinta pun tumbuh dengan liar. Lagi-lagi karna si perawat tak tahu cara terbaik merawatnya. Atau bahkan tahu, hanya tak patuh dengan aturan yang ada.

Lalu, bagaimana kabar cinta kita? Tumbuhkan ia sesuai kadarnya? Teraturkah geraknya?

Bisakah cinta yang kta rawat menjadi salah satu pemberat amalan kelak di yaumil hisab?

Itulah cinta, hadir bersama ketika kita terlahir, tumbuh mengiringin perjalanan hidup, maka berbaiklah merawatnya. Karna cinta juga lah yang akan menjadi pertimbangan amal baik buruk nanti di hari akhir.

Jakarta, 26 Des 2014
Aku sudah menggenggam mu
Setelah susah payah ku cari dirimu
Dan betapa bahagianya aku saat kau sudah ada dalam genggaman kanan ku
Sedang kiri ku sudah menggenggam kekasih mu

Lalu kanan ku bersiap mengajakmu bercengkrama
Menari di atas lembar lembar putih si buku
Menulis apapun yang aku mau

Menuahkan semua rasa dalam hati, tenang dan syahdu
Menyusun kata satu persatu
Untuk ku kenang, nanti disuatu waktu

Aku terlalu mencintai keadaan ini
Dimana hanya sebuah pena biru
Dan sebuah buku
Selalu hadir "tepat waktu"
Dan inilah caraku
Menyimpan memori satu demi satu

Jakarta, 06:10
~Sabtu, 03 Januari 2015