Haus ilmu adalah hal yang wajib ada dalam setiap diri kita. Terutama ilmu-ilmu syariat. Tak menafikan ilmu dunia pun harus kita miliki. Miskinnya moral dan akhlak pemuda zaman sekarang menjadi PR nomor satu bagi kita.
                Belajar dan menimba ilmu sebanyak banyak nya adalah hal yang sangat di anjurkan. Mempelajari apa-apa yang haq dan apa-apa yang bathil. Namun belajar saja tak cukup. Untuk apa kita tahu mana yang haq dan mana yang bathil jika kita tak menyemai yang haq dan tak mencegah yang bathil?
                Seperti kata sebuah pribahasa, Ilmu tanpa amal bagai pohon tak berbuah. Buat apa berilmu jika tak beri tahu orang sekitar mu? Buat apa berpendidikan jika tak mendidik remaja-remaja di lingkungan mu? Jangan pernah sungkan menyampaikan atas ilmu-ilmu yang telah kita dapat.
                Sangat di sayangkan, jika ada pemuda desa yang haus ilmu lalu pergi merantau ke kota untuk belajar namun setelah ia sukses dengan pendidikan nya ia justru enggan kembali ke desa nya yang sudah sangat jelas membutuhkan cipratan cahaya dari nya.
                Maka, bergeraklah menimbanya (ilmu) lalu tuang kan ia kembali di tanah kau terlahir.


Lagi, ku temui hari ini

Hari dimana hati bak kertas di remas
Hari dimana hati bak layangan yang sesekali di tarik sesekali di ulur namun kemudian dilepas
Hari dimana hati tak mampu meredam lagi
Rasa yang berkecamuk kian tak berarti

Lagi ku temui hari ini
Hari dimana airmata hanya sebatas ungkapan sesal dan duka
Hari dimana senyum tawa tak seindah biasanya
Hari dimana yang ku rasa hanya cambuk tak bernyawa

Lagi ku temui hari ini




Bukan kali pertama aku berpetualang, melangkahkan kaki dengan ringan untuk sebuah perjalanan.

Perjalanan ku tak pernah hampa, tak pernah tanpa rasa. Tak pernah sepi meski kadang ku lalui sendiri. Tapi teap saja semua aku nikmati.

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, seratus langkah, seribu langkah tak pernah aku perduli.
Hanya menyapa angin, alam dan orang sekitar yang ku hadapi.

Perjalanan tak kan berkesan tanpa senyuman.
Ya! Senyuman kesyukuran dan kebahagiaan.

Inilah caraku mengukir jejak kenangan,
Menyusuri jalanan,
Menapaki bebatuan,
Menyapa alam ciptaan Tuhan,
Memandang keindahan pelangi,
Menikmati senja di tiap hari,
Mensyukuri nikmat yang telah di beri.

Kadang ada pertemuan dalam sebuah perjalanan
Disitulah momen terindah
Mengucap salam peluk mesra
Menggandeng tangan erat persahabatan
Bertukar cerita, rasa dan mimpi
Saling mengirim doa dalam sunyi
Hingga terkadang rindu menelusup tajam ke relung hati.

Dan ketika mentari menyapa pagi
Perjalanan ku kan di mulai kembali
Mengukir jejak kenangan
Mencipta senyum kesyukuran
Yang terbias dalam rasa kebahagiaan.
Jakarta, 20 April 2014


“Ah, kamu terlalu banyak bicara! Kurangi bicara mu!”
“Kamu cengeng! Bisa nya nangis!”
“Ih, tuh anak kenapa sih rusuh mulu di temlen, ga ada kerjaan apa?!”
Dan masih seabrek lain nya para komentator ini bicara.
Sindiran memang bisa datang dari mana saja. Ekspresi sang penyindir dan korban sindiran pun berbeda-beda. Ada ia yang dengan sejuta masa bodoh nya, ada juga ia yang terlalu peka hingga sindiran seolah cambuk baginya.
Kita memang tak pernah luput dari kesalahan. Sengaja atau tidak. Bahkan saya pribadi pun demikian. Tapi tulisan ini semata-mata adalah ungkapan hati pribadi, semoga bisa saling menginspirasi.
Menerima orang lain dengan segala kelebihan dan kekurangan nya memang tidak semudah menerima uang. Tapi perlu anda bedakan manusia tak seperti rumah makan! Yang bisa anda pesan porsi rasa bahkan semua sesuai selera anda!
Setiap orang memiliki karakter yang berbeda, kenapa kita justru mempersulit diri dengan mengkritik bahkan menyindir karakter orang lain? Terusik kah? Jika ada jalan untuk menghindari orang yang karakter nya mengusik mu, kenapa tidak kau lakukan saja?
Simpel! Saat kau mengkritik dengan nada ketus, bukankah seolah-olah dirimu telah tersakiti? Kenapa menyakiti diri sendiri dengan harus mengkritik orang lain yang bahkan tak pernah sedikitpun memiliki keinginan mengusik mu? Jangan memesan karakter orang! Jika ingin mengkritik, lakukan dengan hikmah dan tutur kata yang indah. Akan beda hasil nya adonan yang kau olah dengan lembut dan adonan yang kau olah dengan kasar. Akan beda hasil nya anak yang kau didik dengan lembut dan anak yang kau didik dengan keras bahkan sering menyakiti hatinya.
 Ini hanya sebuah catatan, ungkapan hati seorang yang cerewet, yang mungkin tak jauh lebih baik dari anda. Mohon maaf jika catatan ini termasuk catatan yang mengusik warna dalam wajah mu.
~Jakarta, 17 April 2014
Langit menurunkan hujan
Tanpa berharap hujan kan berbabalik deras dari bumi kepadanya
Namun air-air tersebut akan memuai
Perlahan lahan dengan kepastian
Hingga bertemu langit kembali

Dan seperti itulah cinta
Ia bukan tak berbalas
Hanya masih menanti beberapa senja
Mungkin ratusan bahkan ribuan senja



Kau yang bekerja
Untuk Bangsa dan Negara
Meski tanpa tahta

Kau yang bekerja
Untuk Bangsa dan Negara
Meski tak berbalas suara

Tapi tetap saja kau bekerja
Tetap saja kau menebar cinta
Untuk mereka yang mengais kesejahteraan di jalan sana

Lalu kenapa masih disangka
Bahwa orang-orang seperti mu hanya mengejar tahta dan harta?
Bahkan disaat cinta mu tak berbalas suara
Biarlah, biarkan mereka berkata
Seperti hujan yang kan kembali ke langit
Secara perlahan lahan
Seperti itulah mereka kelak kan menyadari
Betapa tulus cinta yang kau tanam
Masalah kapan “kelak” itu kan terjadi
Kembalikan pada Nya yang slalu mengisi cinta di hari hari kita

مَنْ عَمِلَ صالِحاً فَلِنَفْسِهِ وَ مَنْ أَساءَ فَعَلَيْها ثُمَّ إِلى‏ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ          

“Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kamu semua akan dikembalikan kepada Tuhan-mu.”
Jakarta, 15 April 2014






 “Tadi pagi saya di kasih uang, dan kalo menang uang akan di tambah,
Maka dari itu saya coblos dia saja”
Di awal sebelum terpilih saja dia sudah berani memainkan uang.
Jadi saksi di ibukota dari partai terkorup,
dengan bangga nya bicara
"Yes! kalo menang bakal di ajak jalan-jalan nih"
Loh?! Bukanya ini awal permainan gratifikasi???

Saat belum terpilih kau sudah berani main gratifikasi apa lagi setelah di pilih???
Saat belum terpilih saja sudah berani money politic, apa lagi setelah terpilih nanti??? Balikin modal money politik waktu kampanye uang dari mana??? ya Korupsi uang bangsa!!!!

Ini lah kenyataan pahit yang harus kita terima dengan senyuman termanis, kenyataan bahwa masyarakat masih percaya dengan janji semata tanpa kerja.
Bangsa ini KEJAM!
Kejam karna tak izinkan orang baik nan sholih memimpin bangsa ini. Kejam karna yang memberi uang paling banyak lah yang berhak terpilih. Kejam karna yang mampu mengajak jalan-jalan lah yang berhak memiliki suara terbanyak apapun cara nya. KEJAM!!! Merka tak mau tau, jika cara-cara itu adalah langkah awal berkorupsi, langkah awal permainan gratifikasi, mereka tak mau tau! Asal senang maka menang!!! Asal kenyang maka menang!!! Tanpa pandang lagi ke depan, jika suatu hari nanti bisa saja mereka mati kelaparan karna uang negara ini habis di makan pimpinan! Karna aset negara habis di jual ke negara kiri kanan!!!
Betapa kita sangat di butuhkan mencerdaskan mereka! Lalu jika kita hanya berdiam diri dengan dalih "Saya harus belajar supaya nanti bisa mencerdaskan mereka" NANTI???!!! Nanti itu bisa lusa lusa lusa, bisa tahun depan dan depan nya lagi, bahkan 200 tahun kemudian!!! Maka dari itu berhenti berkata NANTI!!! Tak ada kata nanti! Mulailah beri kontribusi dari sekarang!!! Sebelum rakyat benar-benar mati kelaparan!!!

10 Jumadi Tsani 1435 H
Jekardah, in memoriam


               
 
Seketika itu juga aku menangis. Rasanya ingin sekali aku mengejarnya dan memeluk erat dirinya. Sudah sekian bulan aku tak menatap wajah teduh nya. Tapi, kenapa dibalik kerinduan ku yang mendalam masih saja aku sering mengabaikannya?
                Ummi, bukan lah seorang ibu rumah tangga yang gaul dan uptodate. Ummi hanya seorang guru di sebuah desa, hanya seorang caleg dari pesisir kota, bukan siapa-siapa dimata dunia, tapi ummi adalah ibu yang paling besar jasanya dan paling aku cinta didunia.
                Rasa berdosa kian menggelayuti hati ini. Entah mengapa bisa aku abaikan sms dari nya. Ah ummi, pukul lah anak mu yang tak tahu diri ini.
                Sudah ku bilang, ibu ku bukan seperti ibu-ibu lain yang aktif di dunia maya. Ibu ku, bahkan hp nya masih buatan cina. Ibu ku kerap kali bertanya, bagaimana menggunakan facebook? Nak, bisa tidak kamu cari pengguna facebook dengan nama ini? Nak, bagaimana cara buka facebook melalui seluler? Nak, ummi pengen ganti foto facebook, cara nya gimana? Nak, carikan pertemanan sama orang-orang desa ya? Biar ummi bisa posting tentang PKS dan sosialisasi juga lewat facebook. Naak...???
Dan berbagai pertanyaan lain nya.
                Ah ummi, 2 hari lalu engkau menghadiri Kampanye akbar PKS di kota kita. Aku yang jauh di ibukota hanya dapat mendengar cerita lewat media. Dan hari itu akupun disibukkan dengan beberapa agenda. Pasca kampanye, sempat aku mendapat sms dari mu ummi, “Nak, ummi mau masukin foto kampanye ke facebook, tapi kok nggak bisa ya? Cara nya gimana?” dan aku, yang sedang disibukkan dengan agenda organisasi kampus ku saat itu hanya membalas singkat “Maaf ummi, aku lagi ada agenda.” Astaghfirullah, mengingat ini rasanya hati ku terpukul! Kelu! Betapa aku meremehkan seorang yang telah mencurahkan segenap cinta nya padaku sekian lama. Padahal, ummi ku sangat ingin memamerkan kemewahan kampanye yang ia hadiri hari itu. Padahal ummi hanya ingin berbagi ekspresi bahagia lewat akun facebook nya. Padahal, ummi ingin akrab dengan facebook hanya karna alasan ingin turut serta meramaikan nama partai dakwah ini di sosial media. Bukan sekedar berstatus ria. Ummi tak pandai bermaain twitter, hanya facebook yang ia punya. Dan aku? Aku telah mengabaikannya. Sampai pagi ini air mata berderai menyusuri pipi ini, membaca sebuah postingan di facebook, ya! Itulah akun ummi ku, yang sudah berhasil memamaerkan pesona kampanye akbar PKS di hari lalu. Sepele memang, hal ini sepele bagi kita yang sudah ahli berfacebook ria dan bertwitter ria. Tapi bagi ummi, ini adalah hal asing yang harus ia pelajari secara perlahan. Ah ummi, betapa aku bersalah telah abaikan tanya mu. Maafkanlah aku ummi. Maafkan aku...