Ketika kita memiliki satu tujuan yang sama, satu tujuan kebaikan, akan banyak batu kerikil bahkan duri yang tajam akan menghujam. Bertahanlah, sakit itu biasa. Perih itu memang luka. Tapi di ujung sana, ujung yang masih jauh disana dan kita masih harus tertatih melangkah kesana, ada Syurga-Nya yang manis, Syurga-Nya yang nyata, Syurga-Nya yang tiada dua. Bertahanlah...

Aku tidak akan mengatakan bertahanlah sedikit lagi. Karena kita sama sama tahu, jalanan itu masih sangat sangat dan sangat panjang.

Bertahanlah sampai antrian maut menghampiri.

Karena menjadi "hanif" seperti sifat Nabi Ibrahim , tidaklah sekedar lurus. Melainkan lurus dan istiqomah disaat yang lain tengah menyimpang bahkan ingkar...

Kita, teman seperjuangan. Saat perbedaan itu sebuah keniscayaan, selagi iman, dan aqidah kita bertumpu pada satu Sang Pencipta Insan, Allah, Arr Rohman, maka doa adalah penguat dan pengukuh perjuangan juga silaturahim diantara kita...

07:08 Kebagusan, 30 September 2015

-afifahsholihah13



Kita sama sama diberi 24 jam oleh Allah.

Sama sama memiliki kewajiban sholat 5 waktu. Sama sama memiliki shubuh yang sama hingga maghrib yang sama.

Mungkin ada beberapa selisih waktu, namun tetap saja kita punya 24 jam itu.

Tapi, kenapa saat ini rutinitas kebaikan yang kita lakukan hanya berkutat pada pusaran yang sama? Sedang orang lain mampu produktif dalam memutar poros kebaikannya? Berpindah dari satu orbit ke orbit lainnya.

Kita sering bekata, saya tidak punya waktu. Sungguh, mungkin itu bukan karena kita tak memiliki waktu, tapi karena kita tak memiliki keberkahan waktu. Bergeraklah, bekerjalah, masukilah lapangan dakwah, dan rasakan, temukan mutiara mutiara indah bersama kafilah kafilah dakwah lainnya.


"Al waqtu kas sayf, in lam taqtho'hu qothoo'aka"... đź•’đź•’đź•’

-13:47 kalibata, 26 september 2015



            Saat ini, wanita-wanita diseluruh dunia tengah disibukkan dengan faham feminisme atau faham kesetaraan gender. Merasa diperlakukan tidak adil, wanita-wanita tersebut terus menerus menggonggongkan keinginannya kepada publik. Faham ini mengantarkan kepada pemikiran bahwa seorang wanita harus disejajarkan derajatnya dengan laki-laki dari semua aspek. Baik itu persoalan karir, tugas, hak dan kewajiban.
Ketika seorang laki-laki memiliki kewajiban mencari nafkah mereka (para wanita dengan faham feminisme) inipun dengan sangat kokoh menyuarakan bahwa mereka juga harus memiliki hak yang sama dalam berkarir. Ketita pada hakikatnya perempuan adalah orang nomor satu yang bertanggung jawab terhadap urusan anak-anaknya didalam keluarga, maka mereka juga akan dengan sangat kokoh menyuarakan untuk kesamaan kewajiban didalam rumah tangganya terhadap laki-laki.
            Alasannya tak lain adalah keadilan. Hingga mereka dengan bersikukuh mengharapkan perlakuan yang adil antara wanita dan laki-laki disetiap sisinya. Padahal, hakikat adil sendiri tidaklah mesti sama rata. Adil juga bermakna menempatkan segala sesuatu pada tempat yang sesungguhnya.
            Sungguh sangat disayangkan jika wanita terus bersikukuh ingin disejajarkan dengan laki-laki. Padahal didalam Islam, wanita justru diperlakukan secara istimewa. Seorang laki-laki bertanggung jawab menjaga kehormatan seorang perempuan, baik istrinya anaknya ataupun ibunya. Seorang perempuan mendapatkan perlakuan istimewa karena memiliki seseorang yang akan selalu menjaga kehormatannya. Didalam Islam seorang wanita diwajibkan menutup aurotnya supaya menghindari fitnah dan berbagai mudhorot lainnya. Semua kewajiban ini tentu ada hikmah yang tersimpan didalamnya. Hanya saja, wanita zaman ini terlalu sempit dalam memikirkan hal-hal tersebut, sehingga membuat mereka kekeuh dalam memperjuangkan faham feminisme dan kesetaraan gender.
            Jika mereka benar-benar menginginkan setara derajatnya dengan laki-laki, setara kewajibannya dengan laki-laki, seharusnya mereka mampu melakukan kebiasaan-kebiasaan atau kewajiban-kewajiban yang dilakukan oleh laki-laki secara rutin. Tapi pada faktanya wanita-wanita dengan faham tersebut tidak mampu melakukannya. Contohnya ketika ada seorang wanita dengan sombongnya melangkah mengimami sholat jumat, ingin menunjukkan bahwa dirinya mampu melakukan apa-apa yang dilakukan oleh laki-laki. Tetapi hal tersebut hanya terjadi beberapa kali. Tidak kontinue atau tidak secara terus menerus. Bukankah mereka lelah dengan apa yang mereka kerjakan? Ini adalah pertanda bahwa mereka memang bukan fitrahnya melakukan kewajiban-kewajiban laki-laki yang tidak diwajibkan baginya perempuan.
            Lalu, akankah feminisme ini membawa kepada keadilan? Atau justru menimbulkan banyak kerusakan?


            Sejarah yang bicara sejarah yang bercerita. Sejarah penyebaran Islam di Indonesia bukanlah isapan jempol belaka. Sesuatu yang menakjubkan, ia tersebar bukan karena peperangan ataupun dari istana ke istana, melainkan dari perdagangan atau dari pasar ke pasar. Orang-orang timur tengah membawa Islam ke Indonesia dan menyebarkannya melalui muamalah tijaroh, atau jual beli. Hingga ketika masa penjajahan tiba, Islam telah tersebar luas di Indonesia dan mengakar sangat dalam pada jiwa-jiwa para pahlawan bangsa.
            Bukti bahwa Islam telah melekat pada jiwa-jiwa para pahlawan adalah pekikan takbir ketika melawan penjajah, takbir itu lebih melekat pada lisan mereka dibanding dengan nama-nama mereka sendiri. Bukti lain adalah adanya kecintaan terhadap negara. Karena dalam Islam kami diajarkan mencintai negara serta menjaganya dari tangan-tangan kotor para penjajah.
            Sangat disayangkan adanya buku-buku sejarah justru memporak-porandakan sejarah yang ada. Oknum-oknum yang berkepentingan dalam hal ini bersikeras melakukan kebohongan melalui buku-buku sejarah yang mereka terbitkan. Jika ada yang mengatakan bahwa Islam nya orang Indonesia adalah karena sebuah paksaan, nyatanya Islam di Indonesia dimulai oleh rakyat biasa dan bukan raja, lantas siapa yang berhak memaksa? Jika ada yang mengatakan Islam di Indonesia hanyalah keisengan belaka, lantas mengapa mereka rela gugur mengorbankan jiwa untuk negaranya? Bukankah itu karena mereka merindukan surga yang dijanjikan oleh Tuhannya?
            Seperti itulah jika musuh islam telah leluasa bergerak ditubuh bangsa ini. Semena-mena mengobrak-abrik data sejarah, bahkan memunculkan beberapa kebohongan yang disengaja. Agar generasi setelahnya buta akan sejarah Islam di Indonesia yang sesungguhnya.
            Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim penduduknya. Indonesia adalah negara dengan Islam sebagai warna didalamnya, meskipun syariat Islam belum ditegakkan, tetapi sebagian ummat Islam mulai berusaha dengan gigih disetiap perannya dalam mewujudkan cita-cita tinggi ini.
            Jika sebagian orang tidak sudi mengatakan bahwa Indonesia adalah negara Islam, maka seharusnya dia tidak pernah lagi menginjakkan kaki di negara ini. Bahkan jika kita kembali menilik kepada UUD 45, disitu ditegaskan “Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas maka rakyat dengan ini menyatakan kemerdekaannya.” Bukankah dalam UUD sendiri telah disebutkan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah jua karena izin dan rahmat Allah? Lalu bagaimana bisa mereka tidak menerima kenyataan bahwa negara ini adalah negara Islam? Jika demikian bukankah lebih baik angkat kaki daripada terus menyiksa hati karena tidak bisa menerima kenyataan bahwa negara ini adalah negara dengan mayoritas Muslim didalamnya.
            ”Jika (Kami) menghendaki untuk menghancurkan suatu bangsa, maka Kami jadikan orang-orang bourjuis diantara mereka sebagai pemimpin , mereka akan berbuat jahat, sehingga tibalah saat kehancurannya, dan Kami hancurkan bangsa tersebut dengan sehancur-hancurnya ” (QS. Al Isra’ : 16)
            Bagaimana dengan Indonesia? Maka dari itu, jika kita mengharapkan negara yang aman, nyaman, adil dan sejahtera hendaklah setiap kita mulai mengaplikasikan persyaratan-persyaratan dalam upaya mencapai sebuah negara yang sama-sama kita harapkan. Al-quran telah banyak menjelaskan tentang kriteria negara atau bangsa yang akan dilimpahi berkah sehingga bangsa tersebut sejahtera kehidupannya.
            Sebaagai muslim tentu kita percaya bahwa apa-apa yang ada pada negara ini adalah milik Allah dari Allah dan akan kembali ke Allah. Maka ketika negara dilanda berbagai persoalan dan krisis diberbagai aspek kehidupan, tugas ummat Islam adalah memberikan sikap dengan sebaik-baiknya sesuai yang Al-Quran dan Sunnah (hadits) ajarkan. Tidak serta merta menjauhkan urusan agama dengan urusan kenegaraan, karena sejatinya apa-apa yang ada pada negara telah diatur segala nya didalam Islam. Maka kembali kepada Islam adalah jawaban yang paling tepat untuk menguatkan persatuan dan kesatuan Indonesia hingga menjadi negara yang adil dan sejahtera. Muslim taat untuk wujudkan Indonesia hebat. Insya Allah.

Sumber            : Al-Quran Al Karim
                          ITJ Punya cerita (Hafidz Ary)
           
           



            Alam adalah apa yang kita rasakan. Alam memberikan banyak manfaat bagi manusia. Alam penuh dengan pesona dan keindahannya, keajaibanpun tak surut dari alam. Lalu akan muncul sebuah pertanyaan, siapakah pencipta Alam semesta? Mengapa alam ini diciptakan?
            Jika dalam bahasa Inggris alam atau sains sama sekali tidak berkaitan dengan God atau yang mereka sebut tuhan. Maka berbeda dengan bahasa arab. Bahasa yang Rabb semesta alam ini turunkan dan sebagai bahasa Al-Quran (kalam Allah). Didalam bahasa arab, ‘Alam/’Aalamiin (alam semesta) penuh dengan hubungan nya terhadap ‘Aliim (Yang Maha Mengetahui, (Allah)), ‘Alamaah (tanda-tanda), ‘Alim (orang yang berilmu).
            Allah menciptakan alam semesta, Allah menciptakan tanda-tanda kekuasaan-Nya dimuka bumi ini, atau di alam semesta ini. Allah juga menciptakan manusia dan memberikan petunjuk kepada yang Ia kehendaki untuk menjadi orang yang berilmu dan mengaplikasikan ilmunya dengan baik dijalan Nya yang benar, serta Allah maha mengetahui atas hamba-hamba-Nya tanpa terlewat seujung kuku pun.
            Dewasa kini, masyarakat dikenalkan dengan sebuah istilah yang mampu merubah pola hidup bahkan pola pikir atau worldview mereka. Modern, atau modernisasi mulai dikenal dikalangan masyarakat. Mirisnya, modern diartikan sebagai istilah dimana tiap individu mulai hidup dengan gaya atau style kekinian tanpa mengikutsertakan agama didalam kehidupannya. Maka semakin jauh seseorang dari agama semakin pula ia dikatakan modern. Modernisasi akan membawa kepada sekularisasi. Faham sekularisasi adalah membebaskan manusia dari kungkungan agama kemudian kungkungan metafisika yang mengatur akal dan bahasanya.
            Sekularisasi dengan kata lain adalah berlepas diri sepenuhnya dari agama. Menjauhkan diri dari simbol-simbol agama, pemikiran-pemikiran agama, serta kewajiban-kewajiban agamanya. Ini adalah efek dari berfikir secara sekularisme.
            Seseorang yang jauh dari agama akan berpengaruh terhadap sikap dan sifat kehidupannya juga mempengaruhi nya dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
            Lalu dimana letak hubungan sekularisme dan alam?
Seseorang yang telah terjebak pada faham sekularisme akan menganggap penciptaan alam sama sekali tidak ada kaitannya dengan Tuhan yang menciptakan alam atau bahkan dengan dirinya sendiri. Seseorang yang terjebak faham sekularisasi akan merasa bahwa kehidupannya terpisah dengan alam. Tak berkaitan. Perasaan ini akan memberikan dampak tidak ada lagi kekaguman pada alam, tidak ada lagi kesyukuran atas apa yang Tuhan ciptakan di alam semesta ini, tidak ada lagi rasa kepedulian terhadap alam serta tidak ada lagi cinta terhadap alam itu sendiri.
            Hingga jika alam dirusak ia tak akan menoleh untuk perduli bahkan bisa jadi dirinya sendiri yang merusak keindahan alam.
            Berbeda dengan seseorang yang jauh dari faham sekularisme, seseorang yang patuh terhadap Rabb nya, seseorang yang taat terhadap ajaran-ajaran agamanya. Lemah lembut serta kepedulian akan muncul dari dalam dirinya. Sebagaimana dikatakan, bahwa islam adalah rahmatan lil alamin. Maka dari sini, para muslim sejati akan mencerminkan bahwa islam adalah rahmatan lil alamin melalui sikap dan sifat mereka.