Orang
lain dengan mudah nya berkata : “kamu tuh lebih baik seperti ini, seperti itu,
begini, begitu” tanpa berfikir panjang tentang perasaan orang lain yang sedang
ia bicarakan. Mungkin ada benarnya perkataan nya. Akan tetapi jika di katakan
secara lantang di khalayak ramai, bukankah itu suatu hal yang menjatuhkan? Ini
bukan arena bermain jika anda mengatakan “hanya sekedar candaan”. Karena toh
jalan yang dipilih orang yang anda kritisi tadi bukan jalanan yang hanya untuk
ia main-main. Itulah jalan hidup nya, jalan yang sudah ia pilih. Mungkin ia
bahkan berat untuk memutuskan memilih jalan itu. Tapi apakah anda pernah
bertanya alasan mengapa ia harus memilih jalan yang sulit? Pernahkah??? Jika
sekali saja anda tak pernah bertanya, maka anda sama sekali tidak memiliki hak
untuk mengkritisinya. Tahukah anda jika ia sakit? Jika hatinya menahan betapa
perihnya apa yang ia alami saat ini. Bahkan ia pun tersenyum saat keadaan
mengharuskannya untuk menangis penuh! Saat ia menangispun tak ada seseorang
disisinya. Menepuk bahunya mungkin, atau berkata “sabarlah wahai sahabatku”. Tapi
itu hanya khayalannya belaka. Sampai detik ini pun tak ada. Justru yang ada
adalah cemooh dari orang-orang yang ternyata ia kenal. Betapa malang nya ia. Ah
andai saja aku disisinya. Setidaknya jika aku tak mampu menepuk bahunya, aku
mampu menemaninya menangis.
Akhwat
jaman sekarang, temennya baca buku tentang pernikahan di bilang “Cie, yang udah
ngebet nikah”~
Akhwat
jaman sekarang, temennya baca buku tentang rumah tangga di bilang “ehem, yang
udah mau di khitbah”~
Akhwat
jaman sekarang, temennya dateng ke seminar parenting di bilang “Sekalian cari
jodoh ya? Siapa tau ada yang nyantol? Haha”~ (tragis!bahkan sambil tertawa)
Akhwat
oh akhwat~
Aku bergegas
ke toilet. Usai ganti pakaian, aku melirik sedikit ke jam dinding di ujung
koridor Rumah Sakit, “Masya Allah, sudah jam 1 malam?” gumam ku.
“Neng, temen nya udah sadar tuh.” Ucap Mang
Udin saat melihatku tiba di depan ruang inap.
“Oh gitu, syukurlah.
Mamang nanya nomor telpon keluarganya nggak?”
“Nggak neng,
dia nanyain eneng dimana, mamang cumin jawab lagi ganti baju.” Deg! Perut ku
sepert di aduk-aduk lagi. Hffttt.
Kemudian aku
dan Mang Uding masuk ke ruang dimana Deni di rawat.
Sekilas aku
memandang wajahnya. Masih persis seperti dalam ingatanku.
“Syukron ya
ukhty atas bantuan nya.” Ucap nya lirih.
Aku hanya
mengangguk.
“Oh iya, ada
keluarga yang bisa di hubungin nggak?” Tanya ku.
“Iya, ada. Tolong
telpon istri saya ya” JEGGEEERRRRRRR!!!! Dunia seperti runtuh! Badai menghantam
dahsyat! Bukan gemetar yang aku rasakan, tapi merinding. Ngilu dari ujung
kepala sampai kaki. UGD! Bawa aku ke UGD! Rasanya aku hampir serangan jantung!
“Maaf mba,
bisa tolong hubungi istri saya?” Ucap nya lagi. Astaghfirullah, kok aku jadi
bengong gini.
“Iya, bisa
bisa. Nomornya berapa?”
Setelah ia
memberitahuku nomor telpon istri nya aku bergegas menelponnya. Terdengar suara
lembut di ujung telpon.
“Jadi Abang
sekarang di rumah sakit mana mba?” Tanya nya. Oh, jadi di panggil abang. Ehem.
“Rumah Sakit
Merdeka mba.” Jawab ku.
“Saya segera
kesana mba.”
Setelah menutup
telpon aku pura-pura konsen dengan hp ku. Padahal, aku sedang memperbaiki
perasaan ku yang nyaris meledak tak karuan.
“Kok bisa
sih Mas kejadian gini?” terdengar mang Udin sedang mengintrogasi Deni.
“hehhe,
sudah kehendak Allah Pak.” Jawab nya santai.
“iya saya
mau tau sebab nya Mas.” Paksa Mang Udin.
“Oh itu,
tadi sepulang dari masjid usai sholat maghrib, gang menuju kontrakan saya memang
gelap, dan sepi. Tiba-tiba ada orang nggak saya kenal nusuk saya dari depan. Saya
nggak sadar Pak, orang nya cepet banget gerak nya. Pas saya kesakitan, dompet
sama handphone saya di ambil. Mungkin dia lagi butuh uang Pak. Hehehe” Oh jadi
gitu ceritanya, gumam ku dalam hati dengan masih menatap layar kosong handphone
ku.
Setelah
beberapa saat Istri beliau tiba. Oh jadi ini istri nya. Ternyata mereka baru
menikah seminggu yang lalu, pantas saja aku nggak tau. Aku dan Mang Udin pamit
pulang. Deni dan istri nya mengucapkan terimakasih kepada kami. Uang ku yang
terpakai juga sudah dikembalikan oleh istri nya. Syukurlah.
Di mobil aku
duduk tak bersemangat.
“Oh iya
neng, mamang lupa kalo tadi Bik Inah bawain makan malem buat eneng sama temen
nya. bawa pakaian fawas juga, jaket juga di bawa dua neng.” Papar mang Udin.
“Udahlah
mang, anggap aja male mini gak ada kejadian apa apa. Oke?” Ucapku tegas.
Mang udin
terlihat heran. Tapi dia hanya mengangguk pelan.
**
Pagi yang
cerah, aku berjalan di pinggiran taman kampus. Masih dalam proses menetralisir
hati.
“WAFAAAAAAAAAA!!!”
Aku di
kejutkan oleh teriakan seseorang yang aku kenal. Aku menoleh. Oh salma. Ucapku dalam
hati. Dia menghampiriku. Memukul mukul pundak ku. Mengguncang bahuku. “anak
ini kenapa lagi sih” Ucapku dalam hati.
“Kamu tau
nggak fa??????” Mata Salma tiba-tiba seperti ingin lompat keluar.
“Apa sih? Heboh
banget??” Jawabku datar.
“Itu, Dia fa…
orang yang semalem baru aja kita omongin loh, si Deni, ternyata fa!!! Dia udah
nikah seminggu yang lalu!!! Hhhuuh” papar salma heboh.
“oh, itu.”
Jawabku.
“Loh??? Kamu
kok biasa aja? Aku kira bakal ngamuk-ngamuk” tanyanya heran.
“Udah tau
kok.” Aku melanjutkan langkah ku.
“hah?? Kok kamu
udah tau dan nggak ngasih tau aku??” ucap Salma seraya mengejar langkahku.
Akhirnya aku
menceritakan kejadian malam tadi ke Salma. Salma justru tertawa.
“kasian
temen aku, kita beli ice cream yuk??” Ledek Salma.
**
Tiga hari
berlalu, seperti tak ada kejadian apa-apa. Aku juga sudah kembali ke duniaku. Menghabiskan
energy saja memikirkan yang tidak-tidak.
“hooiii!! Ngelamun
lagi!!!” Salma tiba-tiba datang dari belakang ku. Anak ini selalu saja bikin ribut.
“ssstttt!! Jaga suara kalo lagi di perpus!” Jawab ku berbisik padanya. “eh fa,
tadi waktu di kantin, aku liat mas mas yang dulu kamu taksir itu loh.” Bisik
Salma kepadaku. “Ya Ampun bocah!! Ada pembahasan laen nggak sih??” Aku mulai
kesal. “hei, sekarang dia udah nggak selugu yang dulu loh fa, cakep banget,
keren, sholeh lagi. Udah itu cocok dan pas banget sama kamu” Salma makin
menjadi. “Mau aku sumpel pake buku apa pake rak buku??” Jawab ku sangar. “wiiiih,,,
galak amat. Oke oke! Keep silent please nyonyaaaaa”. Hhffttt, dari tadi kek
diem. Gumamku dalam hati.
Dulu, waktu
semester 1, aku memang sering nyeletuk, wih keren ya orang itu, waw cakep
banget, ya allah ngfans deh sama yang itu. Yaah, namanya juga mahasiswa baru
lulus SMA. Dan orang yang selalu denger celetukan ku ya si Salma. Apesnya, dia
nggak pernah lupa nama-nama dan wajah korban celetukan ku. Dan sekarang, di
semester akhir, entah kenapa tiba-tiba Salma jadi sering ngungkit-ngungkit masa
lalu aku. Entahlah.
“Ke kantin
yuk Sal, laper nih.” Ajakku.
“Apa? Kantin???
Jiyeeh, penasaran yaaa, mau liat mas-mas yang aku bilang tadi??”.
Ya Ampun!!! Kayak
nya aku salah ngomong lagi.
“Mau nggak? Kalo
nggak ya udah, aku pergi sendiri.” Aku beranjak pergi. Salma cepat-cepat
mengikutiku dari belakang.
Saat aku
membuka pintu perpus untuk keluar, tiba-tiba ada seseorang menghalangi jalanku.
Lebih tinggi dariku, sehingga aku harus mendongakkan kepala untuk melihatnya.
DEG!!!! Lagi
lagi perutku seperti di aduk-aduk, di bolak-balik isinya. Aku berusaha tenang. Mengatur
nafas perlahan. Salma yang di belakangku hanya diam tak bergeming.
“permisi
mba..” Ucap laki-laki yang berdiri di hadapan ku. Oh, sepertinya aku yang
menghalangi jalan nya.
“Oh iya iya,
maaf. Silahkan” aku bergeser sedikit. Lalu ia pun berlalu begitu saja.
“PLAK!”
Salma menepuk pundak ku, aku sedikit terhenyak.
“Benerkan
yang aku bilang, keren kan??” Ia mulai lagi meledek ku.
“Apaan sih,
emang dia siapa?” Jawabku sok santai.
“alaaaah,
pura-pura nggak kenal lagi. Basi wooi basi, hahaha” Salma makin menjadi.
Aku bergegas
menuju kantin. Aduh, rasa apa lagi ini. Baru satu kemarin selesai di
netralisir, sekarang muncul lagi. Astaghfirullah. Tenggelam di laut lepas
sepertinya akan sangat menyenangkan di saat-saat seperti ini.
Setelah
memesan makanan, aku duduk di bangku paling ujung. Jika tenggelam di laut lepas
tak bisa ku lakukan saat ini, setidak nya tenggelam dari keramaian anak-anak
akan sedikit membuatku lega.
Makanan yang
ku pesan sudah datang. Aku mulai makan, tak memperdulikan orang sekitar. Tapi
tiba-tiba seseorang duduk di hadapanku. Aku mendongakkan kepala dan menatapnya.
“Assalamualaikum
Wafa…” Ucapnya sambil tersenyum manis kepadaku.
“Wa’alaikumsalam,
eh, Icha… apa kabar??? Kemana aja kamu?? Udah lama nggak keliatan”
“Iya, maaf
ya jarang ikut partisipasi lagi di Dakwah Kampus nya, lagi ada yang di urus
nih.” Jelasnya.
“Cieeh,,
ngurus apa nih?? Undangan??” candaku.
“Iya fa.
Alhamdulillah.”
Glek! Aku
terkejut. “Kamu serius Cha?? Kapan??? Kok baru ngasih kabar siiih????” Jawab ku
terkejut.
“hehe, belum
sampe cetak undangan kok, baru ta’aruf. Insya allah pekan depan khitbah.”
“Pekan
depan??? Siapa?? Siapa ikhwan nya?” tanyaku antusias. Icha adalah salah satu
sahabatku sejak SMA. Dan ternyata kami di pertemukan di kampus yang sama, meskipun
beda fakultas.
“Tapi kamu
jangan sebarin dulu yah, ini masih bersifat rahasia.” Suara Icah menjadi lebih
kecil volume nya.
Aku
mengangguk kuat berkali-kali. Berusaha meyakinkan Icha bahwa aku akan menjamin
rahasianya.
Icha
mendekatkan wajahnya ke arahku. Mulai akan berbisik sesuatu.
“Nama
nya,,,,,
“Subhanallah,
hujan nya makin deres aja nih”. Ucap Salma memandang keluar dari balik kaca
mobil. “Kamu mau di anter sampe mana fa?”. Aku yang masih menatap deras nya
hujan tak bergeming. Salma memukul pundak ku. “Hei.. di Tanya tuh jawab,
ngelamun aja dari tadi, tuh jerawat nya muncul tuh”. Aku menoleh dan mencubit
tangan Salma. Dia meringis kesakitan. “Nggak ngelamun kali, aku lagi mikir kok,
huh” ucap ku sewot. “Alah, mikir apa mikir? Mikirin dia lagi?” Salma makin
ngelantur. Ups! Dia? Salma bilang Dia? Dia siapa memang? Aku menerawang
sejenak. Ehm, iya. Padahal aku nyaris melupakan nya. Dia bukan siapa-siapa,
cumn seorang ikhwan yang aku hanya tau nama dan wajah nya saja. Tak pernah
menyapa, bahkan nyaris kami tidak saling mengenal. Bisa di sebut, secret admirer
gitu. Hehehe.
“jadi kamu
mau di turunin di mana fa? Di pinggir jalan aja ya? Mobil ku kan gak bisa masuk
ampe depan rumah mu.”
“iya, gak
papa salma sholihah” ucap ku manis sambil menyubit ringan pipi Salma.
“Aku juga
mau mampir ke toko sebrang jalan, mau beli cemilan. Dingin-dingin gini pasti
gampang laper, hehehe”. Lanjut ku.
Mobil terus
melaju menerjang hujan ibukota. Hujan deras ini membuat jalanan sepi. Mungkin
karna sudah lewat jam pulang kerja. Tepat adzan isya berkumandang aku turun
dari mobil. Setelah mengucap salam perpisahan, aku turun dan membentangkan
payung merah ku. Seperti niat ku tadi, aku berbelanja sedikit cemilan. Ada
coklat, kacang, dan pasti nya yoghurt favorit ku.
Kemudian aku
keluar toko. Berdiri di pinggir jalan hendak menyebrang. Tapi, saat aku menoleh
kekanan hendak memastikan keadaan jalan raya aku di kejutkan dengan seorang
laki-laki. Badan nya tidak terlalu tinggi, tapi dia lebih tinggi dari pada aku.
Sedikit kurus, dia memakai jaket hitam. Sekujur tubuh nya basah terkena hujan.
Lampu jalan di sekitar toko kebetulan mati dan belum sempat di perbaiki. Aku
tidak bisa menebak wajah nya. Tapi entah kenapa perut ku seperti di bolak balik
isinya. Deg-degan, bukan takut, tapi aku sendiri masih belum mengerti kenapa
perasaan ku berubah jadi seperti ini. Aku terus menatap nya, bukan karna aku
penasaran itu siapa. Tapi karna dia bersikap agak aneh, dia terus memegangi
perut bagian kanan nya, badan nya agak sedikit merunduk. “kenapa sih nih
orang, kelaperan apa gimana sih?” ucap ku dalam hati. Hah????!!! Aku
terkejut, benar-benar terkejut saat tangan kanan nya agak melepas pegangan dari
perut nya. Tangan nya berlumur darah. Badan ku semakin gemetaran. Harus
bagaimana ini, pantas saja dari tadi ia memegangi perut nya. Tapi kenapa bisa berdarah
seperti itu? Aku maju mundur. Antara ingin menolong nya dan kabur. Pikiran ku
kacau. Jika aku membantu nya, tapi dia justru membuat fitnah bahwa aku yang
mencelakai nya bagaimana? Jika dia meminta aku bertanggung jawab dan membayar
biaya pengobatan nya bagaimana? Aku bingung setengah sadar. Kaki ini kaku. Sebagian
tubuh ku basah karna derasnya hujan. Payung mungil ku hanya mampu melindungi
bagian kepala dan bahu saja. “Ya allah, gimana ini, masa iya aku harus
istikhoroh dulu… aduuuh aku harus gimana? Jalanan sepi lagi, gak ada angkot
lewat, haduh gimana ini gimanaaa…” aku menjerit dalam hati. Tiba-tiba
lelaki itu mendekati ku, ah sudahlah. Aku putuskan untuk menolong nya. Dengan
tangan gemetaran memegang payung, aku menatap ia yang sudah berjalan ke arah
ku.
“em….ma…ma..af,
b..bisa bantu s..s..saya ke rumah sakkkit?” Ucap nya agak terbata-bata. Wajah
nya pucat pasi. Belum sempat aku menjawab ia terjatuh. Cepat cepat aku
memayungi nya.
“Rumah sakit
mana? Naik taxi aja ya? Masih kuat kan?” Ucap ku seperti laju kereta. Tapi ia
tak menjawab, kepala nya nyaris menyentuh tanah. Dia jatuh pingsan. Aku mencoba
menahan nya. Tapi aku juga harus mencari taksi. Aku panik setengah mati. Untunglah,
tiba-tiba ada taksi lewat di depan kami. Pasti allah yang mengirimnya. Alhamdulillah.
Melihat aku
kesulitan membopong lelaki tadi, sopir taksi kemudian turun dan membantu ku
membopong nya.
“temen nya
kenapa mba?” Tanya nya heran.
“Ada
kecelakaan kecil pak tadi, tolong anter ke Rumah sakit Merdeka pak ya?”. Jawab
ku sekenanya.
Aku terus berucap ke sopir agar melaju lebih
kencang. Aku mencoba tenang. Tapi!!!! Aku terkejut untuk kedua kali nya. Wajah
nya! Sekali lagi aku memandang nya untuk memastikan itu. Ya allah! Bener
banget, dia kan dia. Iya dia. Dia itu loh. Dia!!! Haduh aku makin deg degan.
Dia yang barusan aku inget di mobil Salma. Dia yang aku cuman tau nama sama
wajah nya. Tapi, kenapa kami di pertemukan di saat-saat seperti ini. Yang
biasanya kami bertemu hanya di acara-acara besar kampus. Lalu kenapa perut nya
berlumuran darah? Dia yang aku kenal bukan preman, dia laki-laki santun dan
bersahaja. Lalu kenapa? Astaghfirullah, lindungi dia ya allah. Rasa nya aku
ingin menangis, sedih dan kasihan.
Petugas
rumah sakit membantu ku membawa Deni (Begitulah yang aku tahu nama nya) masuk
ke ruang UGD. Seorang suster meminta ku mengisi administrasi. Syukurlah uang
gajian privat yang baru aku terima kemarin masih utuh di dalam amplop. Jika
tidak, mungkin entah berapa lama Deni harus menahan sakit nya karna
administrasi yang tertunda. Miris nya rumah sakit di Indonesia, masih banyak
yang lebih peduli dengan keuangan ketimbang nyawa seseorang.
Masuk nya
Deni ke UGD agak membuat ku tenang. Aku agak bisa bernafas lega. Ah, aku baru ingat
aku belum menghubungi Bik Inah bahwa aku akan pulang terlambat malam ini.
“Assalamualaikum,
dengan kediaman Bapak Ahmad dan Ibu Riyani, ada yang bisa saya bantu?”
Bik Inah
menjawab telpon ku.
“Bik, ini
Wafa. Wafa di rumah sakit bik.” Belum selesai aku bicara, Bik Inah tiba-tiba
memotong perkataan ku.
“Neng Wafa
kenapa? Kecelakaan? Rumah sakit mana neng? Bibik kesana sekarang”. Ucap Bik
Inah panik.
“Aduuuh
bibik, dengerin dulu makanya, Wafa kan belum selesai ngomong. Bukan wafa yang
kecelakaan. Temen Wafa Bik”.
“Alhamdulillah,
Bibik kira neng Wafa kenapa-napa. Terus gimana neng?”
“Ehm, Bibik
tolong bilang ke Mang Udin ya, jemput Wafa di Rumah Sakit, eh bukan jemput.
Maksud nya Mang Udin suruh ke Rumah Sakit, jadi kalo ada apa-apa nanti gampang.
Bibik jaga rumah aja, Ummi sama Abi kalo gak salah besok pagi atau lusa pulang
ke Indo. Wafa mungkin di Rumah Sakit sampe keluarga temen Wafa dating Bik”
Jelas ku.
“oh ya
sudah, neng hati-hati ya, nanti bibik bilang ke Mang Udin cepet-cepet ke Rumah
sakit. Tapi Rumah Sakit mana neng?”
“Rumah Sakit
Merdeka bi, oh iya Bibik catet nih yaa.. Wafa minta tolong bawain baju ganti ya
Bik, Bibik tau kan? Sepaket ya, jilbab sama gamis nya sama celana panjang nya.
Jaket wafa juga di bawa ya, dua ya Bik. Oh iya, Fawas baju-baju nya nggak di
bawa ke Cairo semua kan Bik?”
“Enggak
neng, masih ada kok. Memang kenapa?”
“Bawain juga
kaos sama celana panjang Fawas ya, sama kain panjang atau selimut deh. Bibik
udah masak kan? Bawain makan malem juga ya buat aku sama temen aku bik”.
“Siap neng,
udah bibik catet.”
“Ya udah,
makasih ya Bik Inah, Wafa mau telpon Salma juga nih.”
“Oh iya
neng, hati-hati ya neng Wafa, Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Oke! Urusan
rumah selesai, sekarang tinggal ngabarin Salma.
Nomor
yang anda tuju~~~~~
“Oh iya, Hp Salma tadi kan lowbat. Mungkin belum di charg”.
Aku
mondar-mandir di depan UGD. Tiba-tiba dokter keluar. Aku bergegas menghampiri
nya.
“Kamu
keluarga pasien?” Tanya dokter.
“Iya dok,
gimana keadaan kakak saya?” Ups! Maaf udah ngaku-ngaku.
“Alhamdulillah,
luka nya nggak parah. Luka nya juga sudah selesai di jahit.” Jelas Dokter.
“Alhamdulillah,
syukurlah kalo gitu Dok.” Jawab ku.
“Tapi tetap
harus di opname, dan masih belum boleh banyak bergerak sampai jahitan nya
kering.” Lanjut Dokter.
“Iya dok, Insya
Allah.”
“Ya sudah,
sebentar lagi mungkin dia siuman, kamu sudah boleh masuk.”
“Oh iya Dok,
resep obat nya ada?”
“Nanti ada
perawat yang anter resep nya, di tunggu saja ya”
Aku membalas
nya dengan senyum. Dokter tersebut berlalu meninggalkan ku.
Masuk???
Yakin??? Nanti aja ah, nunggu Mang Udin.
Akhirnya aku
hanya mondar-mandir menanti Mang Udin.
30 Menit
kemudian Mang Udin datang.
“Alhamdulillah,
Mang Udin dating juga akhirnya. Temenin Wafa masuk ke dalem yuk Mang.” Aku buru-buru
mengajak Mang Udin masuk ke ruang opname Deni. Aku yang meminta nya di
pindahkan ke ruang VIP I, supaya dia bisa beristirahat lebih nyaman.
“Neng ganti
baju dulu aja.”
“Oh iya, ya
udah Wafa ganti dulu deh. Mamang tunggu di sini ya”
“Iya neng”
Aku bergegas
ke toilet. Usai ganti pakaian, aku melirik sedikit ke jam dinding di ujung
koridor Rumah Sakit, “Masya Allah, sudah jam 1 malam?” gumam ku...~to be continue
Siapa
yang mengenalnya? Memandang saja seperti tak sampai, menyentuh nya seperti tak
mampu, mendengarnya bicara? Bahkan satu suarapun belum pernah ia katakan. Saat
orang-orang ramai lalu lalang di hadapannya, mereka semua bungkam! Menutup penciuamnnya,
seolah-olah sedang berjalan di pinggir tumpukan sampah busuk.
Ia bukan siapa-siapa, orang-orang
lebih sering menyebutnya Qorin. Entah mengapa. Padahal, ayah ibunya pun tak
tahu dimana. Ia seperti hidup sendiri di muka bumi. Seperti sebuah batang pohon
tanpa duri, tak pernah ia menyakiti. Justru sebaliknya, kerap kali ia tersakiti. Qorin bukanlah
siapa-siapa. Hanya makhluk tuhan seperti biasa. Qorin tak memiliki siapa-siapa,
hanya berteman langit dan bumi semata. Qorin tak punya apa-apa, hanya hati yang
tersiksa kepunyaannya.
Lagi-lagi
Qorin tak berdaya. Garis yang terlikis di pipinya, mungkin airmata yang kerap
kali membanjiri wajah nya yang mengukir garis tipis di pipinya. Ah, hati ini
seperti tersayat saat melihatnya. Namun kebanyakan manusia ibukota acuh
kepadanya.
Qorin, si gadis malang yang tak
tahu berapa usianya. Qorin, si gadis pesisir ibukota, tak mampu bicara, tak
sanggup berdiri kokoh bahkan berjalan. Mobil mewah tahun lalu yang menabraknya,
kini entah kemana. Ah, andai saja si pemilik dulu sudi berbaik hati menolong
nya. Bahkan polisi saja tak mampu mencari kemana si kaya. Atau, seperti
“kura-kura dalam perahu”. Entahlah. Qorin, setahun lalu hanyalah gadis bisu,
kini bukan hanya bisu yang mewarnai harinya, tak memiliki kaki, miskin papa tak
berdaya. Sudikah kau menoleh barang sejenak padanya?
~Jakarta, 06/02/2014
Menulis bukan hal yang sulit. Ia menjadi sulit karna tak ada kemauan yang kuat di dalam diri. Menulis menjadi hal yang menyenangkan jika kita biarkan otak dan tangan ini mengalir beriringan. tuliskan apa yang kamu mau. Tanpa terikat segala peraturan. Just write it! write write and write...
Komunitas #OneWeekOnePage hadir untuk mengajak kamu-kamu semua nulis. Kewajiban nya cuman 2 : -punya Blog -Wajib posting di blog pribadi 1 pekan 1 tulisan.
Makanya nama komunitas ini adalah ONE WEEK ONE PAGE.
Di jamin seru deh!!! mau gabung? cara nya gampang, buat pengguna whatsapp, cukup PM or messege ke : 089601515015 dengan format (Nama_Usia_Instansi) ~lebih di utamakan pengguna Whatsapp~
ayoo buruan daftaaar !!!
Kapasitas nya cuman sampe 50 orang saja loh
Terbuka untuk umum, dari sabang sampai merauke. buat yang di luar negri juga OKE :)
Info lebih lanjut : @fifah_afifah_







